Makassar, Katasulsel.com — Musuh terbesar pekebun sawit bukan hanya harga yang naik-turun.

Bukan pula pupuk yang kadang sulit didapat.

Tahun ini, musuhnya datang dari langit.

Namanya El Nino.

Ia tidak membawa suara.

Tidak terlihat mata.

Tetapi dampaknya bisa membuat tandan buah segar menyusut, tanah mengering, bunga sawit gagal berkembang, hingga produktivitas kebun anjlok.

Karena itu, ketika 150 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Wajo berangkat ke Makassar pekan ini, mereka sebenarnya sedang mengikuti sesuatu yang lebih penting dari sekadar pelatihan.

Mereka sedang belajar bertahan.

Mereka sedang belajar menghadapi cuaca.

Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menggelar Pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan Kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit bagi para pekebun Wajo.

Pelatihan berlangsung pada 14 hingga 19 Juli 2026 di Makassar.

Temanya terdengar teknis.

Budidaya kelapa sawit.

Namun substansinya jauh lebih besar.

Bagaimana menyelamatkan produktivitas sawit rakyat di tengah ancaman perubahan iklim.

Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, berbicara terus terang.

Menurutnya, 2026 bukan tahun yang mudah bagi sektor perkebunan.

Prediksi penurunan curah hujan dan meningkatnya suhu udara menjadi alarm yang harus disikapi sejak sekarang.

“El Nino tidak bisa kita hentikan. Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi dampaknya agar produksi sawit tidak turun drastis,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi sangat penting.

Sebab selama ini banyak pekebun menganggap cuaca sebagai takdir.

Padahal sebagian dampaknya bisa dikendalikan dengan pengetahuan dan teknik budidaya yang tepat.

Di ruang pelatihan itulah para pekebun Wajo diajak memahami cara menjaga kebun tetap produktif meski musim tidak lagi mudah ditebak.

Mereka belajar penggunaan bibit unggul bersertifikat.

Belajar pemupukan berimbang.

Belajar konservasi tanah dan air.

Belajar mengendalikan hama dan penyakit yang berpotensi meningkat akibat perubahan iklim.

Bahkan mereka juga diajarkan sesuatu yang sering dianggap sepele.

Menjaga kesehatan tanah.

Menurut Sri Gunawan, sawit yang produktif saat El Nino hanya membutuhkan dua hal utama.

Air yang cukup.

Dan tanah yang sehat.

Karena itu penggunaan bahan organik seperti pelepah sawit dan janjang kosong tidak lagi sekadar pilihan.

Ia menjadi kebutuhan.

Tanah yang mampu menyimpan air lebih lama akan menjadi penyelamat ketika musim kering datang.

Para pekebun juga didorong membangun embung, rorak, hingga parit buntu untuk memanen air hujan sebelum kemarau tiba.

Dengan kata lain, mereka diajari bagaimana setiap tetes air harus diperlakukan seperti aset berharga.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, mengungkapkan bahwa investasi terbesar dalam pembangunan sawit rakyat bukan hanya pada bibit atau pupuk.

Tetapi pada manusianya.

Karena itulah BPDP terus memperkuat kapasitas pekebun melalui program pelatihan.

Sejak 2022 hingga 2026, sebanyak 1.681 pekebun sawit Sulawesi Selatan telah mengikuti pelatihan serupa.

Dan Wajo menjadi salah satu daerah yang paling aktif.

Dalam dua tahun terakhir saja, 459 pekebun Wajo telah memperoleh kesempatan peningkatan kapasitas melalui program tersebut.

Jumlah yang menunjukkan bahwa sawit rakyat di Wajo sedang dipersiapkan menghadapi masa depan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pamereni, M.Si, melihat pelatihan ini bukan sekadar agenda tahunan.

Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah kunci menjaga daya saing perkebunan sawit rakyat.

Apalagi Wajo memiliki potensi yang tidak kecil.

Saat ini luas areal sawit tertanam mencapai sekitar 8.500 hektare dengan potensi pengembangan hingga 22.000 hektare.

Angka yang besar.

Namun tantangan ke depan bukan lagi memperluas lahan.

Melainkan meningkatkan produktivitas pada lahan yang sudah ada.

Karena zaman membuka hutan untuk menambah produksi perlahan mulai ditinggalkan.

Kini yang dibutuhkan adalah kebun yang lebih cerdas.

Lebih efisien.

Dan lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Maka pelatihan di Makassar itu sesungguhnya bukan sekadar ruang belajar.

Ia adalah ruang persiapan.

Sebab El Nino memang tidak bisa dicegah.

Tetapi sawit rakyat Wajo tidak boleh menyerah sebelum bertanding.
(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Wajo terbaru di sini