Politik Sulawesi Selatan sedang memasuki babak baru.
Banyak hal menarik yang perlu disimak. Berikut ulasan editorial katasulsel.com:
Belum Ada Pasangan Calon
Juga. Belum ada pendaftaran. Bahkan tahapan Pilkada 2029 masih jauh di depan mata. Namun, satu per satu partai mulai menata barisan, memperkuat posisi, dan mengumpulkan amunisi politik.
Rakorda Gerindra Sulsel yang digelar di Makassar pekan ini menjadi salah satu penanda paling jelas.
Ketika lima bupati aktif sekaligus menerima SK dan dikukuhkan sebagai kader Gerindra, publik politik langsung menangkap pesan yang lebih besar daripada sekadar perpindahan partai.
Ini bukan lagi soal kartu anggota.
Ini soal peta kekuatan.
Ini soal siapa yang lebih siap menghadapi pertarungan politik terbesar di Sulawesi Selatan lima tahun ke depan.
Dan jika membaca perkembangan terbaru, setidaknya ada tiga poros kekuatan yang mulai terlihat menuju Pilkada Sulsel 2029.
Gerindra.
NasDem.
Dan PSI.
Tiga partai dengan modal politik berbeda, tetapi sama-sama memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam menentukan arah kekuasaan di Sulawesi Selatan.
Gerindra: Mesin Baru yang Sedang Dipanaskan
Masuknya lima kepala daerah aktif ke Gerindra bukan peristiwa biasa.
Di dunia politik, kepala daerah adalah aset strategis.
Mereka memiliki basis massa.
Mereka memiliki jaringan sosial.
Mereka memiliki pengaruh birokrasi.
Mereka memiliki akses terhadap tokoh-tokoh lokal.
Karena itu, ketika Bupati Wajo Andi Rosman, Bupati Enrekang Muhammad Yusuf Ritangnga, Bupati Sinjai Ratnawati Arif, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, dan Bupati Kepulauan Selayar Natsir Ali bergabung ke Gerindra, sesungguhnya partai berlambang Garuda itu sedang melakukan apa yang dalam teori politik disebut sebagai political consolidation.
Konsolidasi kekuasaan.
Gerindra sedang memperluas basis pengaruhnya hingga ke daerah-daerah strategis.
Apalagi posisi Gerindra saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Partai ini berada di lingkar utama kekuasaan nasional setelah kemenangan Prabowo Subianto.
Dalam politik Indonesia, kedekatan dengan pusat kekuasaan sering menjadi daya tarik tersendiri bagi elite daerah.
Akses politik.
Akses pembangunan.
Akses komunikasi dengan pemerintah pusat.
Semua itu memiliki nilai yang sangat tinggi.
Karena itulah banyak pengamat membaca langkah Gerindra bukan sebagai gerakan jangka pendek.
Melainkan investasi politik menuju 2029.
NasDem Masih Menjadi Raja Politik Sulsel
Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan.
Gerindra memang sedang naik.
Tetapi NasDem masih menjadi kekuatan terbesar yang harus diperhitungkan.
Fakta politik berbicara demikian.
Pada Pemilu 2024, NasDem tampil sebagai partai pemenang di Sulawesi Selatan.
Lebih dari itu, NasDem juga sukses mengantarkan kadernya menjadi bupati dan wali kota terbanyak pada Pilkada 2024.
Prestasi tersebut bukan hasil kerja semalam.
Itu adalah buah dari konsolidasi panjang yang dibangun selama bertahun-tahun.
Saat itu, NasDem Sulsel berada di bawah kepemimpinan Rusdi Masse Mappasessu atau RMS.
Nama RMS tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan NasDem di Sulawesi Selatan.
Ia membangun jaringan.
Ia mengonsolidasikan kader.
Ia menciptakan mesin politik yang efektif hingga tingkat akar rumput.
Hari ini RMS memang telah meninggalkan NasDem.
Namun meninggalkan sebuah partai tidak otomatis menghapus fondasi yang telah dibangun bertahun-tahun.
NasDem masih memiliki struktur.
NasDem masih memiliki kader.
NasDem masih memiliki basis suara.
Dan yang terpenting, NasDem kini dipimpin oleh Syaharuddin Alrif.
Bukan figur baru.
Bukan orang luar.
Melainkan mantan Sekretaris DPW NasDem Sulsel yang memahami secara detail anatomi partai tersebut.
Syaharuddin tahu siapa kadernya.
Tahu wilayah basisnya.
Tahu kekuatan dan kelemahan organisasi.
Karena itu, terlalu dini jika ada yang menganggap dominasi NasDem akan berakhir begitu saja.
Dalam politik, mempertahankan kekuatan memang tidak mudah.
Tetapi NasDem masih memiliki modal yang cukup untuk tetap menjadi pemain utama pada 2029.
Jangan Remehkan PSI dan Faktor RMS
Di sinilah cerita menjadi menarik.
Sebab muncul satu variabel baru yang bisa mengubah seluruh kalkulasi politik.
Namanya PSI.
Banyak yang masih melihat PSI sebagai partai menengah.
Namun persepsi itu bisa menjadi jebakan.
Karena dalam politik, yang menentukan bukan hanya besar-kecilnya partai.
Melainkan siapa yang berada di dalamnya.
Dan PSI sekarang memiliki RMS.
Di tangan RMS, NasDem pernah menjelma menjadi kekuatan politik terbesar di Sulawesi Selatan.
Artinya, kemampuan membangun jaringan, membaca peta elektoral, menyusun strategi pemenangan, hingga mengelola mesin partai sudah teruji.
RMS bukan sekadar politisi.
Ia adalah operator politik.
Ia memahami cara kerja pemilu.
Ia memahami karakter pemilih Sulsel.
Ia memahami bagaimana membangun koalisi hingga tingkat desa.
Karena itu, jika ada yang menganggap PSI hanya sebagai pelengkap, mungkin mereka sedang melakukan kesalahan analisis.
Justru PSI berpotensi menjadi dark horse atau kuda hitam yang dapat mengejutkan banyak pihak menjelang 2029.
Belum tentu menang.
Tetapi sangat mungkin mengganggu keseimbangan kekuatan yang selama ini dianggap mapan.
Politik Sulsel Sedang Memasuki Fase Reposisi
Apa yang terjadi hari ini sejatinya adalah proses reposisi politik.
Setiap partai sedang mencari titik pijak terbaik.
Gerindra mengumpulkan kepala daerah.
NasDem mempertahankan basis yang sudah ada.
PSI membangun kekuatan baru dengan magnet RMS.
Situasi ini membuat Pilkada Sulsel 2029 berpotensi menjadi salah satu kontestasi paling menarik dalam sejarah politik daerah.
Karena tidak ada satu partai pun yang benar-benar dominan.
Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa merasa aman.
Semua masih mungkin berubah.
Koalisi bisa bergeser.
Poros baru bisa muncul.
Tokoh-tokoh baru bisa lahir.
Dan sejarah politik Sulawesi Selatan sudah berkali-kali membuktikan bahwa pemenang sering kali bukan yang paling kuat di awal, melainkan yang paling cermat membaca momentum.
Pertarungan Baru Telah Dimulai
Rakorda Gerindra pekan ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam.
Namun dampak politiknya bisa terasa hingga bertahun-tahun.
Sebab sesungguhnya politik bukan hanya tentang hari pencoblosan.
Politik adalah proses panjang membangun pengaruh, memperluas jaringan, dan mengumpulkan kekuatan.
Hari ini Gerindra sedang bergerak.
NasDem sedang bertahan.
PSI sedang menantang.
Dan Sulawesi Selatan sedang menyaksikan babak awal dari pertarungan besar menuju 2029.
Pilkada memang masih jauh.
Tetapi bagi para pemain politik, hitungan mundurnya sudah dimulai.
β Edy Basri β
Pimpinan Redaksi Katasulsel.com
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
