Dari sini, Sidrap tidak sedang berteori. Ia sedang memakai dapurnya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Zakat yang tidak berhenti di tangan
Bagian lain yang menarik adalah soal zakat produktif.
Jika selama ini zakat identik dengan bantuan konsumtif, Sidrap mencoba menggeser maknanya: dari “diberi makan” menjadi “diberi modal”.
Bantuan tidak berhenti di perut, tapi turun ke usaha kecil.
“Tujuannya agar bantuan tidak berhenti di konsumsi, tetapi menjadi penggerak ekonomi keluarga,” ujar Syaharuddin.
Di titik ini, Sidrap seperti sedang mengubah cara berpikir: dari bantuan sesaat ke kemandirian pelan-pelan.
Dari sawah ke kebun angin
Segmen terakhir talkshow seperti membuka jendela lain Sidrap: energi.
Sejak 2017, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap berkapasitas 75 megawatt telah berdiri. Sekitar 42.000 rumah menikmati listrik dari “angin”.
Kini, rencana pengembangan baru disiapkan: perluasan PLTB dan pembangkit tenaga surya.
Dari sawah ke turbin. Dari padi ke angin.
Sidrap pelan-pelan menulis ulang identitasnya sendiri.
Kembali ke kain yang tidak sempat ditanyakan kamera
Semua itu muncul di televisi nasional. Tapi tidak ada yang sempat menanyakan satu hal kecil: baju yang dikenakan bupati itu.
Baju yang lahir dari tangan penjahit lokal Sidrap Penjahit Taylor.
Baju yang tidak sekadar busana, tapi pernyataan diam: bahwa pembangunan kadang tidak hanya soal proyek, tapi juga soal identitas yang dikenakan dengan sadar.
Di akhir talkshow, Syaharuddin menutup dengan kalimat yang terdengar resmi: tentang kemiskinan yang turun, stunting yang ditekan, dan penghargaan dari pusat.
Tapi mungkin yang lebih jujur justru bukan yang diucapkan di studio.
Melainkan yang sudah lebih dulu dijahit di Arawa.
Dari studio Jakarta, Sidrap memang tampil di layar nasional.
Tapi dari sebuah penjahit kecil di kampungnya sendiri, Sidrap sebenarnya sudah lebih dulu menyiapkan “kostum masa depannya”. (*)
