Penulis
Suci Shoima

MAROS – Siapa bilang belajar bisnis harus menunggu dewasa? Di Desa Pattontongan, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, puluhan siswa sekolah dasar justru mulai mengenal dunia kewirausahaan melalui cara yang unik dan menyenangkan.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar program bertajuk “Pelatihan Prakarya Gantungan Kunci dari Kawat Bulu bagi Anak SD untuk Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini”, Selasa (21/7/2026).

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak mengubah kawat bulu (pipe cleaner) yang sederhana menjadi gantungan kunci beraneka bentuk yang menarik, kreatif, dan bahkan memiliki nilai jual.

Program ini diprakarsai oleh Suci Shoima, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Menurutnya, pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan membuat kerajinan tangan, tetapi juga menanamkan pola pikir kreatif dan semangat berwirausaha kepada peserta.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa sebuah ide sederhana bisa menjadi produk yang bernilai. Kreativitas yang mereka miliki hari ini bisa menjadi peluang usaha di masa depan,” ujar Suci.

Selama pelatihan, peserta belajar membentuk kawat bulu menjadi berbagai model gantungan kunci sesuai imajinasi masing-masing. Ada yang membuat bentuk bunga, hewan lucu, hingga karakter unik yang mencerminkan kreativitas mereka.

Suasana pelatihan berlangsung meriah. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan, mulai dari membentuk pola hingga menyelesaikan karya mereka secara mandiri dengan pendampingan mahasiswa KKN Unhas.

Tidak hanya praktik kerajinan, mahasiswa juga memperkenalkan konsep dasar kewirausahaan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Mereka diajak memahami bahwa hasil karya kreatif dapat memiliki nilai ekonomi jika dikemas dan dipromosikan dengan baik.

Melalui pendekatan sederhana tersebut, peserta mulai mengenal pentingnya kreativitas, keberanian menuangkan ide, kerja sama, hingga cara menghargai hasil karya sendiri.

Menariknya, banyak siswa menunjukkan rasa bangga saat berhasil menyelesaikan gantungan kunci buatan mereka. Beberapa bahkan mulai membayangkan hasil karyanya dapat dijual kepada teman atau keluarga.

Bagi mahasiswa KKN Unhas, pengalaman ini menjadi langkah kecil untuk menanamkan karakter mandiri dan produktif sejak usia sekolah dasar.

Program tersebut diharapkan dapat memicu lahirnya generasi muda yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki mental wirausaha dan kemampuan melihat peluang dari hal-hal sederhana di sekitar mereka.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Unhas membuktikan bahwa pendidikan kewirausahaan tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Dari seutas kawat bulu yang dibentuk menjadi gantungan kunci, anak-anak Pattontongan belajar satu hal penting: kreativitas bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih mandiri dan produktif. (*)

Topik: Maros