Edy Basri adalah seorang jurnalis senior, akademisi, sekaligus pengelola media daring yang telah berkecimpung di dunia jurnalistik selama bertahun-tahun. Saat ini, ia menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Katasulsel.com, salah satu media online yang berfokus pada pemberitaan daerah, pemerintahan, hukum, pendidikan, dan berbagai isu strategis di Sulawesi Selatan.
Karier jurnalistiknya ditempa melalui pendidikan dan pelatihan serta pengalaman bekerja di sejumlah media terkemuka di Indonesia, di antaranya Harian PAREPOS dan Harian FAJAR, media terkemuka di Sulawesi Selatan. Pengalaman tersebut membentuk kapasitasnya dalam bidang peliputan, penulisan berita, investigasi, hingga manajemen redaksi. Konsistensinya dalam menjaga profesionalisme dan etika jurnalistik membawanya meraih pengakuan kompetensi sebagai Wartawan Utama setelah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan Dewan Pers pada tahun 2018.
Selain aktif di dunia pers, Edy Basri juga menaruh perhatian besar pada bidang pendidikan. Ia terlibat dalam kegiatan akademik sebagai pengajar pada bidang Ilmu Hukum, khususnya pada mata kuliah yang berkaitan dengan hukum pidana dan perdata serta kajian peraturan perundang-undangan. Baginya, dunia jurnalistik dan dunia akademik memiliki keterkaitan yang erat dalam membangun masyarakat yang kritis, berintegritas, dan berorientasi pada penegakan hukum.
Melalui berbagai aktivitasnya sebagai jurnalis, penulis, dan pengajar, Edy Basri terus berupaya menghadirkan informasi yang akurat, mendidik, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan literasi, demokrasi, dan kesadaran hukum di tengah masyarakat.
Edy Basri meyakini bahwa pers yang independen dan pendidikan yang berkualitas merupakan dua pilar penting dalam menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Plt Kadis Kesehatan Sidrap Dr Ishak Kenre, SKM, MKes
“Kalau satu mata rantai putus, stunting bisa masuk kapan saja,” tegasnya.
Di lapangan, pendekatan ini membuat puskesmas tidak lagi sekadar tempat berobat, tetapi berubah menjadi pusat kontrol perjalanan hidup awal manusia—dari sebelum pernikahan sampai anak siap sekolah.
Yang menarik, strategi ini juga mengubah cara berpikir masyarakat. Calon pengantin kini bukan hanya datang untuk “sah secara administrasi”, tetapi juga “sah secara kesehatan”.
Dengan pola itu, Sidrap seperti sedang melakukan sesuatu yang tidak banyak daerah berani lakukan: mencegah manusia sebelum masalahnya lahir.
Dan di balik seluruh desain besar itu, nama Dr. Ishak Kenre menjadi porosnya—bukan hanya sebagai pejabat kesehatan, tetapi sebagai arsitek pendekatan yang menggeser titik awal perang melawan stunting jauh ke hulu kehidupan. (*)