Yang pergi adalah seorang pengabdi yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melayani daerah ini.

Seorang birokrat yang tumbuh dari bawah, meniti karier setahap demi setahap, lalu memilih mengundurkan diri ketika merasa tak lagi mampu memberikan pengabdian secara maksimal.

Mungkin itulah yang membuat banyak orang merasa kehilangan.

Sebab Faisal Sehuddin tidak meninggalkan jabatan karena habis masa tugas.

Ia meninggalkan jabatan karena ingin sembuh.

Tetapi Tuhan memanggilnya lebih dahulu.

Kini, ruang kerjanya mungkin telah terisi.

Jabatannya mungkin telah berganti nama.

Namun kenangan tentang dirinya akan tetap tinggal di hati banyak orang.

Terutama mereka yang pernah bekerja bersamanya, belajar darinya, atau sekadar mengenal keramahan dan ketulusannya.

Di tengah upacara penghormatan terakhir yang dipimpin Bupati Syaharuddin Alrif, Sidrap seakan menyadari satu hal:

Ada orang yang pengabdiannya berakhir ketika masa tugas selesai.

Tetapi ada pula yang pengabdiannya dikenang jauh setelah ia tiada.

Dan Faisal Sehuddin adalah salah satunya.

Selamat jalan, Pak Faisal.

Mimpi-mimpi yang pernah Bapak bantu bangun untuk pendidikan Sidrap akan terus dilanjutkan.

Sementara nama dan keteladananmu akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang di Bumi Nene Mallomo. (*)