Wajo, Katasulsel.com β Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sengkang, perubahan itu justru terlihat dari keberanian puluhan warga binaan untuk meninggalkan jejak masa lalu yang selama ini melekat di tubuh mereka.
Setelah mengikuti kegiatan Release Emotional bertema “Bangkit, Pulih, dan Berdaya”, para warga binaan kini kembali diajak mengambil langkah nyata menuju kehidupan yang lebih baik melalui Program Hapus Tato Gratis yang digelar hasil kolaborasi Rutan Sengkang dan Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Wajo dalam rangkaian Misi Kontribusi KMB 4.0.
Program tersebut mendapat sambutan luar biasa dari warga binaan. Sebanyak 42 peserta, terdiri dari 40 pria dan 2 wanita, mengikuti kegiatan yang berlangsung di Lapangan Rutan Sengkang dengan penuh antusias.
Bagi sebagian peserta, tato bukan sekadar gambar di kulit. Ia menjadi simbol perjalanan hidup, pergaulan, bahkan masa lalu yang ingin mereka tinggalkan. Karena itu, proses penghapusan tato dimaknai lebih dari sekadar tindakan estetika, melainkan bagian dari komitmen untuk membuka lembaran baru.
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta yang kemudian dilanjutkan dengan penyetoran hafalan Surah Ar-Rahman sebagai bentuk penguatan spiritual. Setelah itu, peserta menjalani proses penghapusan tato yang ditangani langsung oleh tenaga profesional dari Yayasan Masyarakat Hijrah Tanpa Nama (MAHTAN) sebagai mitra teknis kegiatan.
Suasana terlihat penuh haru. Sejumlah warga binaan tampak serius mengikuti setiap tahapan, sementara yang lain saling memberi semangat kepada rekan-rekannya yang sedang menjalani proses penghapusan tato.
Kepala Rutan Sengkang, Oki Setiawan, mengapresiasi kepedulian Komunitas TDA Wajo yang terus menghadirkan program-program pembinaan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan warga binaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemulihan dan pembentukan karakter warga binaan agar lebih siap kembali ke tengah masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Komunitas TDA Wajo dan seluruh panitia Misi Kontribusi KMB 4.0 atas kepedulian dan dedikasinya. Semoga semangat ‘Bangkit, Pulih, dan Berdaya’ terus tumbuh dalam diri warga binaan,” ujar Oki.
Hal senada disampaikan Ketua Panitia Misi Kontribusi KMB 4.0, Aswin, yang mengaku bangga melihat semangat para peserta sejak hari pertama pelaksanaan kegiatan.
Ia menilai perubahan tidak dapat dipaksakan, namun harus dihadirkan melalui pendampingan dan kesempatan yang nyata.
“Sejak hari pertama hingga kegiatan hari ini, kami melihat semangat yang luar biasa dari saudara-saudara warga binaan,” katanya.
Menurut Aswin, Misi Kontribusi KMB 4.0 bukan sekadar agenda sosial, melainkan upaya menghadirkan harapan baru bagi mereka yang sedang menjalani proses pembinaan.
“Bagi kami, Misi Kontribusi KMB 4.0 bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan sosial, tetapi menghadirkan harapan dan menemani proses perubahan itu sendiri. Semoga ikhtiar kecil ini menjadi awal dari banyak kebaikan yang akan mereka bawa ketika kembali ke tengah masyarakat,” ungkapnya.
Karena proses penghapusan tato membutuhkan beberapa tahapan, program tersebut tidak dilakukan sekaligus. Pelaksanaannya akan berlangsung secara bertahap hingga seluruh peserta menyelesaikan prosesnya.
Kolaborasi antara Rutan Sengkang dan Komunitas TDA Wajo ini menjadi gambaran bahwa pembinaan warga binaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi pemerintah, komunitas, dan masyarakat untuk membuka ruang perubahan yang lebih luas.
Di balik suara mesin penghapus tato yang bekerja perlahan, tersimpan harapan besar. Harapan agar ketika pintu rutan terbuka suatu hari nanti, mereka tidak hanya keluar sebagai mantan warga binaan, tetapi juga sebagai pribadi yang lebih siap menjalani kehidupan baru, meninggalkan masa lalu, dan menatap masa depan dengan keyakinan yang lebih kuat. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
