Nama Indra ada di dalamnya.

Tujuannya: Sidrap.

Bagi banyak orang, itu sekadar perpindahan jabatan.

Tetapi bagi sebagian personel lama Polres Sidrap, ada cerita yang lebih menarik.

Karena Indra bukan orang baru di sana.

Ia pernah menjadi Kasat Reskrim Sidrap.

Bahkan pernah menjadi Kasat Narkoba Sidrap.

Uniknya, ia mungkin satu-satunya perwira yang dimutasi dari Kasat Reskrim menjadi Kasat Narkoba tanpa harus pindah kantor.

Hanya pindah ruangan.

Tetapi medan tempurnya berubah total.

Dari mengejar pelaku kriminal umum menjadi memburu bandar narkoba.

Cerita itu masih diingat sebagian anggota lama.

Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali.

Bukan sebagai kasat.

Tetapi sebagai Kapolres.

Yang lebih menarik lagi adalah siapa yang akan digantikannya.

AKBP Fantry Taherong.

Nama yang juga tidak asing bagi Sidrap.

Dulu, ketika Indra menjadi Kasat Reskrim, Fantry adalah Kasat Intelkam.

Mereka bekerja dalam satu kantor.

Dalam satu halaman apel.

Dalam satu institusi.

Kini sejarah itu seperti diputar ulang.

Fantry naik ke Polda Sulsel.

Indra masuk menggantikannya.

Seolah-olah ada estafet yang sejak dulu memang dipersiapkan.

Masyarakat Sidrap tentu punya harapan sendiri.

Mereka tidak hanya melihat pangkat di pundaknya.

Mereka melihat rekam jejaknya.

Sebab jabatan bisa datang dari telegram.

Tetapi kepercayaan lahir dari pekerjaan.

Dan sejauh ini, angka 104 kilogram sabu itu sudah cukup berbicara.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli berapa banyak rapat yang dihadiri seorang pejabat.

Mereka lebih mudah mengingat hasil.

Apa yang dikerjakan.

Apa yang diubah.

Apa yang berhasil dijaga.

Kini Parepare bersiap melepas.

Sidrap bersiap menyambut.

Sementara Indra berada di antara keduanya.

Meninggalkan kota pelabuhan yang selama 352 hari menjadi medan tugasnya.

Dan kembali menuju daerah yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.

Sidrap.

Tempat yang dulu ia tinggalkan sebagai kepala satuan.

Dan kini ia datangi kembali sebagai kapolres.(*)