Makassar, Katasulsel.com — Dulu, menulis berita dianggap urusan wartawan. Dunia seolah hanya milik jurnalis, redaksi, dan meja berita.

Sekarang, batas itu mulai hilang.

Katasulsel.com resmi membuka ruang bagi siapa saja untuk ikut menulis dan mengirim berita langsung ke redaksi. Bukan hanya wartawan, tapi warga biasa yang punya cerita di lapangan.

Konsepnya sederhana: jurnalisme warga, atau reporter tamu.

Syaratnya juga tidak rumit. Satu hal saja: punya cerita yang layak dibagikan.

Mulai sekarang, publik bisa mengirimkan tulisan berupa berita, laporan kejadian, opini, hingga peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka.

Caranya dibuat sangat mudah. Pengirim cukup membuka menu “Kirim Berita” di bagian kanan atas situs Katasulsel.com. Di sana sudah tersedia formulir yang harus diisi.

Judul, isi berita, dan foto menjadi syarat utama. Tanpa itu, naskah tidak bisa diproses.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ditawar: identitas harus jelas. Nama lengkap, nomor telepon, dan email aktif wajib dicantumkan.

Tidak ada ruang untuk anonim.

Setelah semua terisi, pengirim tinggal memilih kategori berita, lalu menekan tombol kirim.

Selesai. Tinggal tunggu proses berikutnya.

Namun, kiriman tidak otomatis tayang di halaman utama.

Pemimpin Redaksi Katasulsel.com, Edy Basri, menegaskan bahwa setiap naskah tetap melewati proses penyaringan redaksi.

“Tidak semua kiriman langsung tayang. Kami tetap melakukan editing, verifikasi, dan penilaian kelayakan sebelum dipublikasikan,” ujarnya.

Menurutnya, fitur ini lahir dari banyaknya pembaca yang ingin ikut terlibat dalam ruang pemberitaan.

Banyak warga, kata dia, sebenarnya memiliki informasi dan peristiwa penting di sekitarnya, tetapi tidak punya wadah untuk menyampaikannya.

“Ini kami buka karena memang ada kebutuhan itu. Pembaca ingin ikut menulis, ikut menyampaikan cerita,” katanya.

Dengan model ini, Katasulsel.com tidak lagi hanya menjadi media satu arah. Tapi berubah menjadi ruang dua arah, tempat pembaca juga bisa menjadi penulis.

Meski begitu, redaksi tetap menjadi pintu akhir. Menyaring, memeriksa, dan memastikan setiap informasi yang dipublikasikan tetap sesuai kaidah jurnalistik.

Langkah ini sekaligus menandai perubahan cara kerja media: dari sekadar menyampaikan berita, menjadi ruang partisipasi publik.

Pertanyaannya kini sederhana, tapi langsung mengena:

masih mau hanya membaca, atau mulai ikut menulis? (*)