Ada keluarga yang harus menghitung setiap lembar rupiah agar pendidikan tetap berjalan.
Manotas memahami itu.
Karena itu ia selalu mengingatkan murid-muridnya untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan orang tua.
“Lihat tangan ibu kalian yang hitam karena matahari. Lihat ayah yang pulang membawa lumpur dari ladang. Mereka bekerja untuk masa depan kalian,” begitu pesan yang sering ia sampaikan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Kini, salah satu mimpinya telah tercapai.
Anak didiknya berhasil menembus kampus-kampus terbaik Indonesia.
Dan ketika ditanya apa yang akan ia lakukan setelah itu, jawabannya justru mengejutkan.
Tidak ada euforia.
Tidak ada tuntutan penghargaan.
Tidak ada permintaan jabatan.
Ia hanya tersenyum.
“Kalau yayasan suatu hari mengganti saya, saya siap. Saya sudah bahagia. Mimpi memasukkan anak-anak ke kampus top sudah tercapai,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun mungkin di situlah letak kebesaran seorang Manotas Situmorang.
Ia tidak mengejar nama besar untuk dirinya.
Ia hanya ingin melihat anak-anak yang pernah dianggap biasa-biasa saja, mampu berdiri sejajar dengan yang terbaik.
Dan tahun ini, ia membuktikannya.
Dari sebuah sekolah yang sering menjadi pilihan terakhir, lahir mahasiswa-mahasiswa yang berhasil menembus kampus impian bangsa.
Sebuah bukti bahwa di tangan guru yang tepat, besi memang bisa berubah menjadi emas. (*)
