Tahun ini, Persoalan Energi di Sulawesi Selatan, khususnya di Sidenreng Rappang (Sidrap), Memberi Pelajaran Lain. Ketika Air Surut, Angin Bisa Menjadi Kawan

Pada September 2026, perhatian publik tertuju pada tantangan produksi pembangkit listrik tenaga air ketika debit air menurun. Dalam pemberitaan Tirto pada 17 September, pejabat Kementerian ESDM menyebut energi angin dapat menjadi pelengkap ketika produksi listrik dari air menghadapi tekanan akibat kondisi kering.
Logikanya sederhana. Air yang surut dapat mengurangi kemampuan pembangkit hidro menghasilkan listrik. Pada saat tertentu, angin justru bisa memberi tambahan pasokan. Keduanya memiliki karakter berbeda, dan perbedaan itu dapat menjadi kekuatan apabila sistem kelistrikan direncanakan dengan baik.
Tentu, angin tidak bisa menggantikan air setiap saat. Kecepatan angin berubah, debit air berubah, dan kebutuhan listrik juga bergerak. Yang dibutuhkan bukan sekadar satu jenis pembangkit, melainkan kombinasi sumber energi yang saling melengkapi.
Inilah yang disebut diversifikasi energi.
Indonesia memiliki modal alam yang beragam. Ada sungai, matahari, angin, panas bumi, dan sumber energi lainnya. Tantangannya adalah bagaimana semua potensi itu dikelola dalam satu sistem yang ekonomis, andal, dan semakin rendah emisi.
PLTB Sidrap, dalam konteks tersebut, bukan hanya cerita tentang daerah yang memiliki angin bagus. Ia merupakan bagian dari percobaan besar Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan alam tanpa terus-menerus bergantung pada satu sumber energi.
Angin memang gratis. Tetapi menangkapnya, mengubahnya menjadi listrik, lalu mengirimkannya kepada pelanggan membutuhkan modal, teknologi, keahlian, dan pengelolaan yang serius.
Dari Turbin ke Sawah
Sekarang mari kita tinggalkan perbukitan turbin sebentar. Kita turun ke tempat listrik digunakan.
Sebab, ukuran keberhasilan energi tidak cukup hanya dilihat dari tingginya menara atau besarnya kapasitas pembangkit. Ukuran lainnya ialah apakah energi itu membantu orang bekerja lebih baik, berproduksi lebih banyak, dan menjalani kehidupan dengan lebih mudah.
Di Amparita, di bagian selatan Sidrap, Muh Hasby merupakan salah satu warga yang dapat memberi perspektif masyarakat tentang arti listrik dalam kehidupan sehari-hari. Cerita dari warga seperti Hasby penting untuk membawa pembahasan energi keluar dari ruang rapat dan masuk ke rumah, tempat usaha, serta lahan pertanian.
Bagi masyarakat, listrik bukan istilah teknis. Mereka tidak setiap hari memikirkan berapa megawatt kapasitas pembangkit atau berapa kilovolt tegangan transmisi. Yang mereka rasakan ialah apakah pompa air dapat bekerja, apakah usaha bisa beroperasi, apakah biaya produksi dapat ditekan, dan apakah pelayanan listrik tetap andal.
Di Amparita, saya berbincang dengan Muh Hasby. Obrolan kami akhirnya sampai pada sesuatu yang sering dianggap biasa: listrik.
Bagi masyarakat, listrik bukan sekadar angka megawatt atau turbin raksasa yang berputar di perbukitan Watang Pulu. Listrik adalah urusan sehari-hari. Ia menyangkut pekerjaan, pengeluaran rumah tangga, dan kesempatan untuk membuat usaha tetap berjalan.
“Jadi, saya hanya ingin mengatakan, listrik itu sangat membantu, sangat, bahkan dari semua aspek,” aku Muh Hasby.
Dari cerita seperti itulah pembangunan energi seharusnya diukur. Bukan hanya dari berapa banyak listrik yang berhasil dibangkitkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Sebab, pembangkit boleh berdiri megah di perbukitan. Namun, keberhasilan energi baru terasa lengkap ketika manfaatnya sampai ke rumah-rumah warga.
Kisah warga seperti ini akan membuat laporan energi jauh lebih hidup. Angka 75 MW atau rencana tambahan 100 MW memang penting, tetapi pembaca juga perlu melihat hubungan antara angka itu dan kehidupan manusia.
Sebab, energi mandiri bukan hanya soal berapa banyak listrik yang bisa dibangkitkan. Energi juga harus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk tumbuh.
Di sektor pertanian, hubungan tersebut mulai terlihat melalui program Electrifying Agriculture, yakni pemanfaatan listrik untuk mendukung kegiatan pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Pada 14 Oktober 2026, pemberitaan KabarMakassar melaporkan PLN UID Sulselrabar mencatat 4.438 pelanggan program tersebut hingga September 2026, dengan total daya tersambung 208.553,3 kVA. Salah satu penerapannya berada di Desa Takkalasi, Sidrap, tempat listrik digunakan untuk menggerakkan pompa air bagi sawah warga.
Ini menarik. Listrik yang biasanya kita kenal melalui lampu ruang tamu dan televisi ternyata juga dapat menjadi tenaga produktif di lahan pertanian.
Petani yang memanfaatkan pompa listrik, misalnya, dapat memperoleh pilihan teknologi untuk mengairi sawah. Namun, manfaat ekonominya tetap perlu dihitung secara nyata: berapa biaya listrik, berapa penghematan dibandingkan sumber energi sebelumnya, bagaimana ketersediaan air, dan apakah hasil panen ikut meningkat.
Jangan sampai kita hanya merayakan teknologinya, tetapi lupa menghitung hasilnya.
Di sinilah PLN mempunyai ruang penting untuk terus memperluas pemanfaatan listrik produktif, mendampingi pelanggan, dan membantu masyarakat memahami cara menggunakan energi secara efisien.
Listrik yang hanya menyalakan lampu sudah berguna. Listrik yang juga menggerakkan pompa, mesin pengolahan hasil panen, penyimpanan dingin, dan usaha kecil bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Tentu, setiap program harus disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, kondisi jaringan, kemampuan membayar, dan kelayakan usaha. Sebab, elektrifikasi yang berhasil bukan hanya membuat orang beralih menggunakan listrik, tetapi juga membuat penggunaan listrik itu masuk akal secara ekonomi.
Anak Muda dan Pekerjaan Rumah Energi
Dr. Abdul Jabbar, tokoh pemuda di Sidrap, dapat menjadi salah satu narasumber penting untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang generasi muda, pembangunan daerah, dan masa depan ekonomi.
Energi terbarukan bukan hanya urusan teknisi pembangkit. Di dalamnya ada peluang pendidikan, penelitian, tenaga kerja, usaha pendukung, hingga pengembangan keterampilan baru.
Namun, peluang itu tidak otomatis jatuh ke tangan masyarakat lokal.
Perlu disiapkan sumber daya manusia yang memahami teknologi, keselamatan kerja, kelistrikan, pengelolaan lingkungan, dan kebutuhan industri. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan PLN dapat membangun kerja sama agar anak-anak muda di sekitar kawasan energi memiliki kesempatan berpartisipasi.
Di Sidrap, masa depan energi seharusnya tidak berhenti pada turbin-turbin raksasa yang berputar di perbukitan. Ada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: apa yang bisa diperoleh generasi muda dari hadirnya energi baru dan terbarukan?
Pertanyaan itu penting bagi Dr. Abdul Jabbar, tokoh pemuda Sidrap, untuk dimintai pandangan. Sebab, pembangunan energi bukan semata urusan berapa megawatt listrik yang dihasilkan. Ada peluang pendidikan, peningkatan keterampilan, kebutuhan tenaga kerja, hingga kesempatan bagi usaha lokal untuk ikut tumbuh.
Pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) Sidrap telah menjadi penanda bahwa daerah ini punya tempat dalam peta energi bersih Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat pembangunan tersebut semakin terasa di lingkungan sekitar. Anak-anak muda perlu mengenal teknologi energi, memahami kebutuhan industri, dan memiliki kesempatan menyiapkan diri untuk terlibat di dalamnya.
Di sinilah kolaborasi antara PLN, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat menjadi penting. Energi mandiri bukan berarti setiap daerah harus berdiri sendiri tanpa jaringan. Justru, daerah yang memiliki potensi energi perlu terhubung dengan sistem kelistrikan yang andal sekaligus memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama.
Pertanyaan pentingnya bukan semata-mata berapa banyak turbin yang akan berdiri. Pertanyaan berikutnya: berapa banyak warga lokal yang memperoleh kesempatan kerja? Apakah pelaku UMKM dapat masuk ke rantai pasok? Apakah anak muda bisa belajar keterampilan yang dibutuhkan industri energi? Dan apakah pertumbuhan investasi menghasilkan manfaat yang bertahan lama?
Sebuah proyek energi berskala besar semestinya tidak hanya meninggalkan pemandangan yang megah. Ia juga perlu membuka jalan bagi peningkatan kapasitas manusia di sekitarnya.
Bupati Boleh Membuka Jalan, Sistem Harus Berjalan
Pemerintah Kabupaten Sidrap di bawah kepemimpinan Syaharuddin Alrif telah mendorong pengembangan PLTB dan memperjuangkan agar potensi energi angin memberi manfaat ekonomi lebih luas bagi daerah.
Dalam perkembangan pada 2026, terdapat dua hal yang patut dicermati. Pertama, rencana pengembangan kapasitas pembangkit. Kedua, dorongan agar daerah penghasil energi memperoleh manfaat yang lebih nyata dari keberadaan investasi tersebut.
Keduanya berhubungan, tetapi tidak sama.
Kapasitas pembangkit berbicara tentang kemampuan menghasilkan daya listrik. Sementara manfaat ekonomi daerah berbicara tentang pendapatan, pekerjaan, kesempatan usaha, infrastruktur, dan kesejahteraan masyarakat.
Pembangkit bisa besar, tetapi dampak lokalnya tetap perlu diukur. Sebaliknya, ketika pemerintah daerah mampu menyiapkan tenaga kerja, memperkuat usaha masyarakat, dan membangun lingkungan investasi yang sehat, proyek energi berpotensi memberi manfaat lebih luas.
Karena itu, upaya Syaharuddin mendorong pengembangan PLTB layak dibaca sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Namun, keberhasilan akhirnya harus dinilai dari pelaksanaan proyek dan hasil yang benar-benar dirasakan warga, bukan semata-mata dari pengumuman investasi.
Di titik ini, peran pemerintah daerah, investor, pemerintah pusat, dan PLN saling berkaitan. Investor menyiapkan proyek sesuai kelayakan dan perizinan. Pemerintah memastikan tata kelola dan kepentingan publik terlindungi. Sementara PLN memiliki peran penting dalam sistem ketenagalistrikan, termasuk pengelolaan jaringan dan penyaluran listrik sesuai ketentuan serta kesiapan sistem.
Tidak semua pihak mengerjakan hal yang sama. Justru karena tugasnya berbeda, koordinasi menjadi penting.
Kita juga perlu membedakan kapasitas pembangkit yang telah beroperasi dengan kapasitas tambahan yang masih direncanakan. Rencana pembangunan 100 MW, misalnya, tidak boleh ditulis seolah-olah seluruh kapasitas itu sudah menghasilkan listrik. Dalam dunia energi, antara pengumuman, perencanaan, konstruksi, pengujian, dan operasi komersial terdapat tahapan yang harus dilalui.
Ketelitian seperti ini penting. Energi menyangkut kepentingan publik, investasi besar, dan perencanaan jangka panjang. Berita yang baik tidak perlu membesar-besarkan angka untuk membuat sebuah proyek tampak penting.
Fakta yang terverifikasi sudah cukup kuat untuk bercerita.
PLN dan Arti Listrik yang Dapat Diandalkan
Ada satu hal yang sering baru disadari ketika listrik padam: betapa banyak aktivitas manusia bergantung pada energi.
Rumah sakit membutuhkan listrik untuk peralatan medis. Sekolah memerlukan penerangan dan perangkat belajar. Petani membutuhkan tenaga untuk pompa dan pengolahan hasil. Pelaku usaha memerlukan pasokan yang stabil agar produksi tidak terganggu.
Karena itu, transisi menuju energi bersih tidak boleh hanya berbicara tentang sumber energi. Ia juga harus berbicara tentang keandalan.
Dalam sistem kelistrikan, dikenal istilah reserve margin, yakni selisih antara kapasitas daya yang tersedia dan kebutuhan beban puncak, yang digunakan sebagai salah satu indikator kecukupan pasokan. Ada pula load forecasting, atau prakiraan beban, untuk memperkirakan kebutuhan listrik pada waktu mendatang.
Istilah-istilah itu mungkin terdengar rumit. Tetapi maksudnya sangat dekat dengan kehidupan kita: jangan sampai kebutuhan listrik tumbuh, sementara kemampuan sistem memasoknya tidak siap.
PLN menghadapi pekerjaan besar untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan, mengembangkan jaringan, meningkatkan efisiensi, serta mengintegrasikan sumber energi baru dan terbarukan sesuai kesiapan sistem.
Tugas itu semakin penting ketika sumber pembangkit menjadi lebih beragam. Energi angin dan matahari menawarkan manfaat lingkungan, tetapi karakter produksinya menuntut perencanaan yang cermat. Karena itu, pengembangan pembangkit harus berjalan beriringan dengan kesiapan transmisi, distribusi, pengaturan sistem, dan teknologi pendukung.
Dengan kata lain, energi bersih bukan proyek satu pihak.
Pembangkit yang baik memerlukan sistem yang siap. Jaringan yang baik memerlukan perencanaan. Dan sistem yang andal memerlukan orang-orang yang bekerja menjaga semuanya tetap berjalan.
Kita mungkin tidak melihat petugas yang memantau sistem kelistrikan ketika sedang menikmati kopi di rumah. Kita juga tidak selalu tahu pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan di gardu atau jaringan. Namun, pekerjaan itulah yang menjadi bagian dari upaya menjaga listrik tetap tersedia bagi masyarakat.
Itulah sisi PLN yang layak diceritakan: pekerjaan di balik layar yang menghubungkan sumber energi dengan kebutuhan sehari-hari.
Energi Mandiri Bukan Berarti Berjalan Sendiri
Ada salah pengertian yang perlu diluruskan ketika kita berbicara tentang energi mandiri.
Mandiri bukan berarti setiap daerah harus membangun pembangkit sendiri, memproduksi semua peralatannya sendiri, dan melepaskan diri dari jaringan nasional. Sistem energi modern justru bergantung pada kerja sama, konektivitas, pertukaran keahlian, dan pengelolaan sumber daya yang efisien.
Energi mandiri lebih tepat dimaknai sebagai kemampuan memanfaatkan potensi yang dimiliki, memperkuat ketahanan pasokan, mengurangi kerentanan terhadap gangguan, dan membangun sistem yang berkelanjutan.
Sidrap memiliki potensi angin. Daerah lain memiliki potensi air, panas bumi, surya, atau sumber energi lain. Ketika semuanya dikembangkan sesuai kondisi setempat dan dihubungkan melalui sistem yang andal, Indonesia memiliki peluang membangun portofolio energi yang lebih kuat.
Tentu, perjalanan itu tidak bebas tantangan. Investasi harus layak. Teknologi harus sesuai. Dampak lingkungan harus diperhitungkan. Masyarakat perlu dilibatkan. Dan manfaat ekonomi harus dibagikan secara adil melalui mekanisme yang transparan.
Energi terbarukan juga bukan berarti tanpa dampak. Pembangunan turbin membutuhkan lahan, infrastruktur, kajian lingkungan, dan pengelolaan risiko. Semua itu perlu ditangani secara bertanggung jawab.
Sebab, tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan listrik dengan sumber yang lebih bersih. Tujuannya adalah membangun sistem energi yang membantu masyarakat hidup lebih baik, tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang.
Angin Berputar, Pekerjaan Belum Selesai
Kembali ke Sidrap.
Di perbukitan, turbin-turbin itu berdiri seperti penanda bahwa sumber daya alam dapat memiliki kehidupan kedua ketika bertemu teknologi. Angin yang dahulu hanya lewat kini ikut mengambil bagian dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia.
Namun, keberhasilan energi tidak berhenti pada baling-baling yang berputar.
Ia baru benar-benar terasa ketika listrik tersalurkan dengan andal, ketika usaha kecil bisa berkembang, ketika petani memperoleh pilihan teknologi yang sesuai, ketika anak muda memiliki keterampilan baru, dan ketika masyarakat di sekitar proyek mendapatkan manfaat yang bisa mereka rasakan.
Bagi PLN, tantangannya ialah terus menjaga keandalan sistem sekaligus mendukung integrasi energi baru dan terbarukan secara bertanggung jawab. Bagi pemerintah daerah, tugasnya memastikan investasi tidak hanya menjadi kebanggaan visual, tetapi juga menghasilkan kesempatan ekonomi. Bagi masyarakat, terbuka peluang untuk mengambil bagian dalam perubahan itu.
Dan bagi Indonesia, Sidrap memberi satu pelajaran sederhana: potensi alam baru menjadi kekuatan ketika dikelola dengan ilmu, teknologi, tata kelola yang baik, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Angin memang tidak bisa diperintah. Tetapi manusia bisa belajar memanfaatkannya.
Di situlah makna energi mandiri.
Bukan sekadar memiliki pembangkit. Bukan pula sekadar menambah angka megawatt. Melainkan kemampuan mengubah potensi menjadi daya, daya menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan.
Energi Mandiri, Indonesia Berdaya.
Slogan itu akan lebih bermakna ketika tidak hanya terdengar di panggung acara, tetapi benar-benar hadir di sawah, rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan tempat usaha masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, energi yang paling berharga bukan hanya energi yang berhasil dibangkitkan.
Melainkan energi yang manfaatnya sampai kepada manusia. (edybasri)
