Sidrap, Katasulsel.com β Ada masa ketika seseorang tidak lagi leluasa melangkah, bukan karena tak ingin pergi ke mana-mana, melainkan karena tubuhnya tak lagi mampu diajak berjalan. Hari-hari pun berlalu dalam keterbatasan. Keinginan sederhana harus berdamai dengan keadaan.
Begitulah kehidupan yang dijalani Sumanto, 70 tahun, warga Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Selama kurang lebih empat tahun, stroke membuat Sumanto mengalami kelumpuhan. Ia tak lagi bekerja. Di usia senjanya, ketika banyak orang berharap dapat menikmati hari-hari dengan tenang, Sumanto justru harus menjalani kehidupan dalam kondisi yang serba terbatas.
Namun, di tengah keterbatasan itu, sebuah kunjungan membawa pesan bahwa ia tidak sepenuhnya sendiri.
Personel Seksi Profesi dan Pengamanan (Sipropam) Polres Sidrap datang menyambangi Sumanto. Mereka tidak datang untuk melakukan pemeriksaan ataupun menjalankan tugas penegakan disiplin. Kali ini, mereka hadir membawa tali asih dan kepedulian.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Kasi Propam Polres Sidrap, AKP Syamsudin Arif, bersama sejumlah personel Sipropam. Kegiatan itu merupakan bagian dari bakti sosial dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-24 Propam Polri.
Bagi sebagian orang, bantuan yang diserahkan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi warga yang tengah menghadapi keterbatasan, perhatian semacam itu memiliki arti yang tidak selalu bisa diukur dengan nominal.
Sebab, terkadang yang dibutuhkan seseorang bukan hanya bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga kehadiran orang lain yang bersedia datang, menyapa, dan menunjukkan bahwa penderitaannya masih mendapat perhatian.
βKehadiran kami ini merupakan bentuk kepedulian dan empati terhadap masyarakat, khususnya warga yang sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan uluran tangan,β ujar AKP Syamsudin Arif.
Melalui bantuan tersebut, Sipropam Polres Sidrap berharap dapat meringankan beban keluarga Sumanto sekaligus memberikan dukungan moril agar ia tetap memiliki semangat menjalani hari-harinya.
Di balik seragam yang dikenakan, pesan yang ingin disampaikan sederhana: tugas kepolisian bukan semata-mata menjaga ketertiban, menegakkan aturan, atau memastikan anggota tetap disiplin. Ada sisi kemanusiaan yang juga perlu dirawat, terutama ketika berhadapan dengan masyarakat yang sedang berada dalam keadaan sulit.
Bakti sosial ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Kadang, ia tumbuh melalui langkah kecil: mendatangi rumah warga, mengulurkan tangan, dan menyisihkan waktu untuk mereka yang membutuhkan perhatian.
Dalam rangkaian Hari Jadi ke-24 Propam Polri, kegiatan tersebut mengusung tema βBersama Menjaga Integritas, Profesionalisme dan Kehormatan Institusiβ.
Syamsudin berharap momentum tersebut dapat memperkuat komitmen personel Propam dalam menjaga integritas, meningkatkan profesionalisme, dan menjunjung tinggi kehormatan institusi Polri.
Tetapi bagi Sumanto, mungkin ada makna lain yang jauh lebih dekat dengan kehidupannya hari ini.
Di tengah empat tahun yang dijalani dengan kelumpuhan, sebuah kunjungan telah menghadirkan perhatian dari luar rumahnya. Sebuah pengingat bahwa usia senja dan keterbatasan fisik tidak seharusnya membuat seseorang merasa dilupakan.
Karena pada akhirnya, ukuran kehadiran sebuah institusi di tengah masyarakat bukan hanya terlihat ketika mampu menyelesaikan persoalan besar. Ia juga terasa ketika mau mendekat kepada warga kecil yang sedang menghadapi masa-masa paling sulit dalam hidupnya.
Dan di rumah Sumanto, kepedulian itu datang melalui sebuah kunjungan sederhana. Barangkali bantuannya tak serta-merta mengubah keadaan, tetapi perhatian yang tulus setidaknya membawa satu pesan: di tengah keterbatasan, ia masih diperhatikan. (edybasri)
