Ada satu benda yang kelihatannya sepele di sawah, tetapi bisa membuat petani gelisah berhari-hari: pupuk.

Edy Basri

Bukan karena bentuknya menarik. Bukan pula karena baunya sedap. Pupuk justru sering baru terasa penting ketika barang itu tidak ada.

Benih sudah masuk tanah. Air sudah menggenangi petakan sawah. Traktor sudah bekerja. Bibit sudah menghijau. Petani mulai menghitung hari menuju pemupukan pertama. Lalu, ketika tanaman membutuhkan makanan, pupuk belum juga tiba.

Di situlah masalah pertanian kadang bermula. Bukan dari tanah yang tidak subur. Bukan pula dari petani yang malas bekerja. Melainkan dari sesuatu yang mestinya sederhana: barang yang dibutuhkan tanaman tidak datang ketika waktunya tiba.

Tanaman padi tidak mengenal rapat koordinasi. Tidak memahami alasan administrasi. Tidak bisa menunggu sampai urusan distribusi selesai dibicarakan.

Padi punya jadwal biologisnya sendiri.

Dan petani, seperti biasa, harus menyesuaikan diri dengan jadwal alam sekaligus jadwal manusia.

Di Sidrap, Sulawesi Selatan, urusan ini menjadi semakin penting. Daerah yang lama dikenal sebagai salah satu lumbung beras di Sulawesi Selatan itu sedang bergerak menuju pertanian yang lebih modern. Pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif mendorong peningkatan produksi, memperkuat distribusi pupuk, dan membuka jalan bagi penerapan teknologi pertanian.

Tetapi ukuran keberhasilan transformasi itu bukan berapa kali pejabat turun ke sawah. Bukan pula berapa banyak imbauan dipasang di pinggir jalan.

Ukuran paling sederhana justru ada di tangan petani: apakah pupuk tersedia ketika diperlukan, apakah harganya terjangkau, dan apakah hasil panen akhirnya cukup untuk membuat keluarga petani hidup lebih sejahtera.

Sebab swasembada pangan tidak dimulai dari pidato. Ia dimulai dari tanah, air, benih, pupuk, dan keputusan-keputusan kecil yang menentukan nasib satu musim tanam.

Di Arateng, Waktu Punya Harga

Rusli adalah seorang petani di Arateng, Kabupaten Sidrap.

Bagi orang yang tidak pernah mengurus sawah, satu atau dua hari mungkin tidak berarti banyak. Bisa dipakai untuk tidur lebih lama, menonton televisi, atau sekadar minum kopi sambil membicarakan harga gabah.

Bagi petani, hitungan waktu berbeda.

Keterlambatan pupuk dapat mengganggu jadwal pemupukan. Pemupukan yang tidak sesuai kebutuhan tanaman bisa memengaruhi pertumbuhan. Ketika pertumbuhan tidak optimal, petani mulai menghitung ulang harapan terhadap hasil panen.

Di sinilah pupuk bukan sekadar komoditas yang ditimbang dalam kilogram atau ton. Ia menjadi bagian dari keputusan ekonomi rumah tangga.

Ada biaya benih. Ada ongkos pengolahan tanah. Ada tenaga kerja. Ada biaya pompa air bila sawah memerlukannya. Ada pula ongkos panen dan angkutan. Semuanya keluar lebih dahulu, sementara hasilnya baru bisa dinikmati beberapa bulan kemudian.

Petani sesungguhnya sedang menjalankan bisnis dengan modal yang sebagian besar harus dipertaruhkan sebelum hasil diketahui.

Karena itu, kelancaran pupuk mempunyai arti yang lebih besar daripada sekadar tersedianya karung di kios.

Bagi Rusli, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah pupuk tersedia, melainkan apakah pupuk itu datang pada saat sawah membutuhkannya.

Di Arateng, Sidrap, Rusli menjalani kehidupan yang akrab bagi petani padi: menyiapkan lahan, menanam, mengatur air, lalu menunggu waktu yang tepat untuk memberi pupuk.

Bagi Rusli, urusan pupuk bukan perkara sepele. Ada waktu yang harus dikejar, ada biaya yang mesti dihitung, dan ada harapan yang dititipkan pada setiap rumpun padi. Sebab begitu benih ditanam, pengeluaran mulai berjalan. Hasilnya? Petani masih harus menunggu berbulan-bulan.

Karena itu, kelancaran pupuk menjadi salah satu hal yang menentukan ketenangan petani dalam menjalani musim tanam. Pupuk yang tersedia sesuai jadwal membuat perencanaan lebih mudah. Sebaliknya, jika pasokan tersendat, petani harus mencari jalan keluar di tengah pekerjaan sawah yang tidak bisa dihentikan begitu saja.

Di sinilah pengalaman Rusli menjadi penting. Bagaimana ia memperoleh pupuk selama ini? Apakah penebusannya semakin mudah? Dan apakah perubahan distribusi benar-benar terasa sampai ke sawahnya di Arateng?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa menunjukkan sejauh mana transformasi pertanian benar-benar sampai kepada orang yang paling berkepentingan: petani.

Pertanyaan tersebut penting karena petani tidak menanam padi berdasarkan kalender rapat. Mereka bekerja berdasarkan fase pertumbuhan tanaman.

Ada fase vegetatif, ketika tanaman membentuk akar, batang, dan daun. Ada fase generatif, ketika tanaman mulai membentuk malai dan mengisi bulir. Kebutuhan unsur hara pada setiap fase tidak selalu sama.

Nitrogen, misalnya, berperan penting dalam pertumbuhan vegetatif. Fosfor membantu perkembangan akar dan proses metabolisme tanaman. Kalium mendukung ketahanan tanaman serta berbagai proses fisiologisnya.

Itulah sebabnya pupuk tidak cukup hanya tersedia. Pupuk juga harus digunakan dengan jenis, dosis, waktu, dan cara yang tepat.

Dalam bahasa pertanian, ada prinsip pemupukan berimbang. Bukan berarti semua pupuk diberikan sebanyak-banyaknya, melainkan sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.

Sebab pupuk berlebihan bukan jaminan hasil berlimpah. Tanaman bisa tumbuh terlalu rimbun, penggunaan unsur hara menjadi tidak efisien, dan biaya produksi membengkak.

Petani membutuhkan kepastian pasokan, tetapi mereka juga membutuhkan pengetahuan.

Di titik itulah transformasi pertanian seharusnya bekerja: mempertemukan pupuk yang tersedia dengan pengetahuan tentang cara menggunakannya.

Dari Karung Pupuk Menuju Perubahan Sistem

Sidrap tidak sedang memulai perubahan pertaniannya dari nol.

Kabupaten ini memiliki sekitar 52.227 hektare lahan persawahan. Luas tersebut merupakan modal besar, tetapi sekaligus pekerjaan rumah yang tidak kecil. Mengelola puluhan ribu hektare sawah membutuhkan lebih dari semangat menanam.

Diperlukan benih yang sesuai, pengairan yang andal, alat dan mesin pertanian, penyuluh yang aktif, pupuk yang tersedia, serta tata niaga yang tidak merugikan petani.

Pada 19 Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Sidrap bersama PT Pupuk Indonesia membahas mitigasi penyaluran pupuk bersubsidi. Fokusnya mencakup pendataan penerima, pengawasan distributor dan kios, serta antisipasi keterlambatan distribusi.

Dalam forum itu, pemerintah daerah juga menyoroti pentingnya pendampingan teknis kepada petani. Penyuluh Pertanian Lapangan tidak cukup hanya hadir ketika ada kegiatan. Mereka perlu membantu petani memahami perubahan metode budidaya, pemupukan, dan peningkatan produktivitas.

Langkah tersebut penting karena distribusi pupuk merupakan mata rantai yang panjang. Ada alokasi, pendataan, distributor, kios pengecer, kelompok tani, hingga petani yang menebus pupuk.

Jika satu mata rantai tersendat, petani bisa ikut menanggung akibatnya.

Pupuk yang menumpuk di gudang belum tentu berarti pupuk sudah tersedia di tangan petani. Stok di tingkat kabupaten belum tentu menjawab kebutuhan di satu desa. Begitu pula pupuk yang sudah ditebus belum otomatis digunakan secara tepat.

Maka, istilah tepat waktu, tepat jumlah, tepat sasaran, dan tepat harga tidak boleh berhenti sebagai slogan.

Keempatnya harus bisa diperiksa.

Apakah pupuk sampai sebelum jadwal pemupukan? Apakah jumlahnya sesuai kebutuhan dan alokasi? Apakah benar diterima petani yang berhak? Apakah harga penebusannya sesuai ketentuan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar administratif. Namun bagi petani, jawabannya bisa menentukan apakah satu musim tanam berakhir dengan senyum atau justru utang yang harus dibayar setelah panen.

Di bawah kepemimpinan Syaharuddin Alrif, pemerintah daerah telah menjadikan kelancaran pupuk sebagai salah satu bagian dari upaya mendorong produksi padi. Tantangannya sekarang ialah memastikan kebijakan itu terasa hingga tingkat petakan sawah.

Sebab keberhasilan pemerintah tidak seharusnya hanya diukur dari rapat yang terlaksana, tetapi juga dari persoalan yang berhasil diselesaikan.

Ketika Tknologi Ikut Turun ke Sawah

Perubahan pertanian Sidrap juga terlihat dari penerapan Program Pertanian Modern – Advanced Agricultural System atau PM-AAS.

Program ini membawa pendekatan budidaya yang lebih terpadu, dengan dukungan benih unggul, pemupukan, mekanisasi, dan pendampingan teknis.

Pada panen perdana kawasan PM-AAS seluas 100 hektare di Sidrap, Agustus 2026, Kementerian Pertanian melaporkan produktivitas mencapai 11,2 ton gabah kering panen per hektare berdasarkan hasil ubinan. Angka itu melampaui target yang ditetapkan untuk kegiatan tersebut.

Hasil itu menarik. Bukan semata-mata karena angka 11,2 ton terlihat besar di atas kertas, tetapi karena ia menunjukkan potensi yang dapat dicapai ketika berbagai unsur budidaya dikelola secara terpadu.

Namun ada satu hal yang perlu diingat: hasil ubinan dari satu kawasan percontohan bukan otomatis hasil rata-rata seluruh sawah di Sidrap.

Perbedaan varietas, kesuburan tanah, ketersediaan air, cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, dan keterampilan petani dapat menghasilkan produktivitas yang berbeda.

Karena itu, tugas berikutnya bukan hanya mencatat keberhasilan panen perdana. Tugas yang lebih berat ialah memastikan praktik baik tersebut bisa diterapkan secara tepat di lahan lain, dengan memperhitungkan kondisi masing-masing.

Petani tidak hanya membutuhkan angka hasil panen yang mengesankan. Mereka perlu tahu bagaimana angka itu dicapai, berapa biaya produksinya, dan berapa pendapatan bersih yang tersisa setelah semua pengeluaran dibayar.

Sebab gabah yang banyak belum tentu identik dengan keuntungan yang besar.

Jika hasil naik, tetapi biaya pupuk, tenaga kerja, sewa mesin, dan pengairan ikut melonjak, margin keuntungan petani bisa tetap tipis.

Dalam bahasa sederhana, sawah boleh semakin produktif, tetapi dompet petani jangan sampai tetap kurus.

Transformasi pertanian baru terasa lengkap apabila produktivitas meningkat bersamaan dengan efisiensi biaya dan kesejahteraan petani.

Etar dan Pertanyaan Tentang Masa Depan

Di tengah perubahan itu, suara anak muda juga penting.

Etar, tokoh pemuda di Sidrap, dapat menjadi salah satu sudut pandang untuk melihat bagaimana pertanian dipersepsikan oleh generasi yang akan meneruskan pekerjaan di sektor pangan.

Mengapa anak muda perlu dibicarakan dalam urusan pupuk?

Karena masa depan pertanian bukan hanya soal berapa banyak orang yang masih mau menanam padi hari ini. Masa depan juga ditentukan oleh apakah generasi berikutnya melihat pertanian sebagai usaha yang layak dijalani.

Anak muda akan lebih tertarik pada sektor pertanian jika usaha itu memiliki prospek pendapatan yang masuk akal, akses teknologi, kepastian sarana produksi, dan peluang untuk berkembang.

Mereka tidak harus semuanya menjadi petani dengan cara yang sama seperti orang tua mereka. Ada peluang dalam jasa alat dan mesin pertanian, pengolahan hasil panen, pengeringan gabah, penggilingan, pemasaran digital, hingga usaha penyediaan sarana produksi yang dikelola secara sehat.

Tetapi seluruh peluang itu membutuhkan satu fondasi: produksi pertanian yang berjalan dengan baik.

Jika pupuk terlambat, biaya produksi sulit diprediksi, dan hasil panen tidak memberikan keuntungan yang layak, pertanian akan sulit tampil sebagai pilihan usaha yang menjanjikan.

Sebaliknya, ketika distribusi sarana produksi lebih tertata, teknologi makin mudah diakses, dan petani memperoleh pendampingan yang memadai, pertanian memiliki peluang untuk berkembang menjadi sektor ekonomi yang menarik bagi generasi muda.

Etar, tokoh pemuda di Sidrap, melihat pertanian bukan semata-mata urusan orang-orang yang setiap pagi turun ke sawah. Di dalamnya ada masa depan ekonomi daerah, peluang usaha, dan pertanyaan penting tentang siapa yang akan meneruskan pekerjaan menanam pangan ketika generasi petani hari ini mulai menua.

Anak muda sebenarnya tidak harus dijauhkan dari sawah. Justru sawah perlu dibuat semakin menarik bagi anak muda.

Coba bayangkan, jika mengolah lahan bisa dibantu mesin, kebutuhan pupuk dapat dipantau dengan lebih teratur, informasi harga gabah mudah diperoleh, dan pemasaran hasil panen semakin terbuka. Pertanian tidak lagi semata-mata pekerjaan yang mengandalkan tenaga, tetapi juga usaha yang membutuhkan pengetahuan, teknologi, dan kecakapan membaca peluang.

Namun, jangan buru-buru menyebut pertanian modern sebagai jawaban untuk semua masalah. Mesin tetap membutuhkan biaya. Teknologi membutuhkan keterampilan. Benih unggul membutuhkan air dan pemupukan yang tepat. Sementara keuntungan petani tetap ditentukan oleh perbandingan antara hasil panen dan seluruh biaya produksi.

Di sinilah peran pemerintah menjadi penting. Modernisasi harus membuka kesempatan bagi generasi muda, bukan hanya menghadirkan alat baru untuk dipamerkan. Anak muda perlu memperoleh akses pelatihan, pendampingan usaha, teknologi yang terjangkau, serta kesempatan masuk ke rantai bisnis pertanian.

Persoalannya kemudian bukan sekadar apakah pemuda mau bertani, melainkan apakah pertanian memberi alasan yang cukup kuat bagi mereka untuk memilihnya sebagai masa depan.

Pandangan Etar dapat menjadi jembatan untuk membaca perubahan Sidrap hari ini. Ketika pemerintah mendorong peningkatan produksi padi dan memperbaiki tata kelola sarana pertanian, generasi muda perlu melihat hasil yang lebih nyata: usaha yang menjanjikan, petani yang lebih sejahtera, dan kesempatan untuk berkembang tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Sebab swasembada pangan tidak cukup diwariskan melalui lahan dan benih. Ia juga harus diwariskan melalui pengetahuan, keberanian berinovasi, dan keyakinan bahwa menjadi bagian dari dunia pertanian adalah pilihan masa depan yang layak.

Pandangan pemuda ini penting untuk melengkapi cerita. Sebab pertanian tidak hanya memerlukan pupuk untuk tanaman, tetapi juga kepastian masa depan bagi orang yang mengusahakannya.

Padi membutuhkan nitrogen, fosfor, dan kalium. Pertanian modern membutuhkan hal lain: ilmu, teknologi, akses pasar, dan generasi yang bersedia melanjutkan pekerjaan tersebut.

Jangan Sampai Pupuk Datang, Tetapi Persoalan Tetap Tinggal

Ada perbedaan antara mempercepat distribusi pupuk dan mentransformasikan sistem pertanian.

Mempercepat distribusi berarti memastikan pupuk tiba sesuai jadwal dan kebutuhan. Mentransformasikan sistem berarti memperbaiki keseluruhan cara pertanian direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi.

Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak identik.

Pupuk yang lebih cepat sampai akan membantu petani menjaga jadwal pemupukan. Namun hasilnya tetap dipengaruhi oleh kualitas benih, pengairan, kondisi tanah, cuaca, pengendalian hama, dan cara budidaya.

Karena itu, program pupuk harus berjalan bersama penguatan penyuluhan. Petani perlu mendapatkan rekomendasi pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan turun-temurun tanpa evaluasi.

Penggunaan pupuk organik juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan kesuburan tanah, sesuai karakteristik lahan dan ketersediaan bahan organik. Sementara pemanfaatan pupuk anorganik perlu tetap mengikuti rekomendasi teknis agar unsur hara diberikan secara efisien.

Ada pula persoalan yang tidak kalah penting: pupuk bersubsidi harus benar-benar sampai kepada penerima yang berhak.

Sistem distribusi yang tertib memerlukan data petani yang akurat, pengawasan harga, pencatatan penebusan, serta mekanisme pengaduan yang mudah digunakan. Jika terjadi kendala, petani perlu mengetahui ke mana harus melapor dan bagaimana penyelesaiannya.

Di sinilah pemerintah daerah, distributor, kios, penyuluh, kelompok tani, dan perusahaan pupuk harus bekerja sebagai satu rantai pelayanan.

Petani tidak seharusnya menjadi pihak yang paling sibuk mengurus pupuk, padahal waktunya dibutuhkan untuk mengurus sawah.

Kalau urusan administrasi membuat petani kehilangan momentum pemupukan, sistem perlu diperiksa. Bukan petaninya yang terus-menerus diminta bersabar.

Swasembada Bukan Hanya Soal Banyaknya Gabah

Sidrap memiliki alasan kuat untuk mengambil peran dalam agenda swasembada pangan nasional. Luas sawahnya besar, pengalaman petaninya panjang, dan penerapan pertanian modern mulai memperlihatkan hasil yang menjanjikan.

Di bawah kepemimpinan Syaharuddin Alrif, dorongan terhadap peningkatan produksi, penguatan distribusi pupuk, dan pengembangan pertanian modern menjadi bagian dari arah pembangunan daerah.

Namun swasembada pangan bukan sekadar urusan menambah tonase gabah.

Swasembada juga berbicara tentang kemampuan petani menjaga keberlanjutan produksi, mengelola biaya, menghadapi perubahan cuaca, dan mempertahankan kesuburan tanah.

Ia juga berbicara tentang harga gabah yang layak, akses pasar, kepastian sarana produksi, serta pendapatan petani yang cukup untuk membiayai musim tanam berikutnya.

Sebab petani tidak bisa menanam hanya dengan tepuk tangan. Mereka memerlukan modal, pupuk, air, benih, tenaga, dan perhitungan usaha yang masuk akal.

Pemerintah boleh menetapkan target produksi yang tinggi. Tetapi target itu perlu diterjemahkan menjadi dukungan nyata yang dapat dirasakan petani.

Kios harus memiliki pasokan yang sesuai. Penyuluh perlu hadir ketika dibutuhkan. Infrastruktur pengairan harus berfungsi. Teknologi perlu bisa diterapkan. Dan data produksi harus diperiksa secara terbuka.

Dengan begitu, peningkatan produksi bukan sekadar berita baik untuk hari ini, melainkan fondasi bagi musim tanam berikutnya.

Pada Akhirnya, yang Ditunggu Petani Adalah Kepastian

Kembali ke Arateng.

Bagi Rusli, pupuk tidak perlu datang dengan seremoni. Tidak perlu diiringi pidato panjang. Tidak harus menunggu pejabat berdiri di depan kamera.

Yang penting, ketika tanaman membutuhkan pupuk, pupuk itu tersedia. Harganya sesuai ketentuan. Jumlahnya cukup menurut alokasi dan kebutuhan. Cara penggunaannya jelas. Dan hasil panennya memberi harapan yang masuk akal bagi keluarga petani.

Bagi Etar dan generasi muda, yang penting bukan hanya melihat sawah menghijau, melainkan melihat bahwa pertanian memiliki masa depan.

Dua sudut pandang itu bertemu pada satu kebutuhan: sistem pertanian yang bekerja dengan baik.

Pemerintah menyiapkan kebijakan. Perusahaan memastikan pasokan. Distributor dan kios menyalurkan pupuk. Penyuluh memberikan pendampingan. Petani mengolah tanah dan merawat tanaman. Generasi muda membawa gagasan baru.

Jika semua mata rantai itu berjalan, perubahan akan lebih mudah terlihat. Bukan hanya pada tingginya batang padi atau beratnya bulir gabah, tetapi juga pada biaya produksi yang lebih terkendali dan kehidupan petani yang lebih baik.

Transformasi untuk swasembada pangan negeri memang bisa dimulai dari teknologi modern, benih unggul, mesin pertanian, dan sistem distribusi yang lebih tertata.

Namun terkadang, ukuran paling jujur dari sebuah transformasi justru sangat sederhana.

Pupuk datang sebelum tanaman terlambat mendapatkannya.

Petani tidak lagi kehilangan waktu untuk mencari barang yang seharusnya tersedia.

Dan ketika panen tiba, hasil kerja berbulan-bulan itu benar-benar membawa kesejahteraan.

Sebab pada akhirnya, yang ingin dipanen petani bukan hanya gabah.

Mereka juga ingin memanen kepastian. (edybasri)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru