Penulis:
Aginta Krina Nicole Paliling

LUWU TIMUR — Kawasan konservasi mangrove di Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, kini memiliki peta mitigasi bencana berbasis informasi geospasial. Peta tersebut disusun mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk membantu desa mengenali kawasan pesisir sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Hasil penyusunan peta itu diserahkan kepada Pemerintah Desa Pasi-Pasi, Selasa (11/8/2026).

Program kerja tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN-T Unhas dalam mendukung pengelolaan kawasan pesisir yang tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dikembangkan sebagai kawasan konservasi mangrove dan destinasi wisata.

Di balik potensi tersebut, terdapat kebutuhan terhadap informasi spasial yang mudah dipahami masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan jalur evakuasi dan informasi kawasan yang dapat digunakan ketika terjadi kondisi darurat.

Mahasiswa KKN-T Unhas kemudian mengembangkan informasi tersebut dalam bentuk Peta Mitigasi Bencana Pesisir Berbasis Informasi Geospasial.

Data dan informasi mengenai kawasan pesisir Desa Pasi-Pasi dikumpulkan dan diolah untuk menghasilkan peta yang menggambarkan kondisi kawasan sekaligus memuat informasi pendukung mitigasi bencana.

Bukan Sekadar Peta

Penanggung jawab program, Aginta Krina Nicole Paliling, mahasiswa Geofisika Unhas, menjelaskan bahwa peta tersebut disusun untuk menyediakan informasi spasial yang dapat menjadi salah satu instrumen pendukung mitigasi bencana di kawasan pesisir Desa Pasi-Pasi.

Menurutnya, keberadaan informasi spasial penting agar masyarakat maupun pengunjung dapat mengenali kondisi kawasan dan memiliki gambaran mengenai aspek keselamatan ketika berada di kawasan pesisir.

Program ini juga tidak hanya menghasilkan produk berupa peta.

Mahasiswa KKN-T Unhas menyusun Buku Panduan Penyusunan Peta Mitigasi Bencana Pesisir Berbasis Informasi Geospasial pada Kawasan Konservasi Mangrove Desa Pasi-Pasi.

Buku tersebut menjadi bagian dari output program yang dapat digunakan sebagai bahan pendukung untuk memahami proses penyusunan informasi mitigasi berbasis geospasial.

Dengan adanya peta dan buku panduan tersebut, Pemerintah Desa Pasi-Pasi memiliki bahan informasi yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kawasan pesisir, khususnya kawasan konservasi mangrove yang juga memiliki fungsi wisata.

Dukung Kawasan Pesisir yang Lebih Aman

Penyerahan peta dan buku panduan pada 11 Agustus 2026 menjadi tahap akhir dari rangkaian program mahasiswa KKN-T Unhas di Desa Pasi-Pasi.

Output tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen kegiatan mahasiswa. Informasi yang telah disusun dapat dimanfaatkan pemerintah desa sebagai salah satu bahan pendukung dalam perencanaan kawasan, edukasi kebencanaan, hingga upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pengunjung.

Program ini sekaligus sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

Bagi Desa Pasi-Pasi, keberadaan informasi geospasial tersebut menjadi tambahan penting dalam melihat kawasan pesisir secara lebih menyeluruh: bukan hanya sebagai kawasan mangrove yang harus dijaga, tetapi juga sebagai ruang hidup masyarakat dan kawasan wisata yang membutuhkan aspek keselamatan.

Melalui program tersebut, KKN-T Gelombang 116 Unhas menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat dapat menghasilkan produk yang dapat digunakan setelah masa pengabdian berakhir.

Dari Desa Pasi-Pasi, peta mitigasi itu diharapkan menjadi salah satu langkah awal menuju kawasan pesisir Luwu Timur yang lebih siap menghadapi risiko bencana, sekaligus tetap menjaga fungsi ekologis mangrove dan potensi wisatanya.(*)