Guadalajara — Laga pembuka Piala Dunia 2026 di Stadion Guadalajara berubah jadi panggung drama klasik: jatuh, bangkit, lalu menang. Korea Selatan menutup malam dengan senyum lebar setelah menekuk Republik Ceko 2-1, Jumat (12/6/2026) WIB.
Sejak awal, Korea Selatan bermain seperti tim yang tidak ingin menunggu cerita berkembang. Bola lebih banyak mengalir di kaki mereka. Lee Kang-in dan Son Heung-min jadi pusat orbit serangan, sementara Ceko memilih bertahan rapat, menutup semua celah, dan berharap pada serangan balik sesekali.
Peluang demi peluang lahir, tapi selalu mentah di tangan kiper Matěj Kovář yang tampil seperti tembok hidup. Sepakan, umpan terobosan, hingga bola rebound—semuanya dipatahkan tanpa kompromi.
Babak pertama pun selesai tanpa gol. Tapi bukan tanpa cerita.
Memasuki babak kedua, tempo berubah lebih panas. Korea Selatan menaikkan garis serangan, menekan lebih dalam, dan membuat Ceko nyaris tak punya ruang bernapas. Namun justru di saat dominasi sedang di puncak, kejutan datang.
Menit 59, satu lemparan ke dalam berubah jadi petaka. Ladislav Krejčí muncul tanpa pengawalan dan menanduk bola dengan presisi. Ceko unggul 1-0. Stadion seketika bergeser suasana—dari dominasi menjadi tekanan.
Tertinggal, Korea Selatan tidak panik. Mereka justru menaikkan intensitas seperti tim yang tersinggung. Delapan menit berselang, Hwang In-beom menjawab. Bola hasil kombinasi cepat di depan kotak penalti diselesaikan dengan tenang untuk mengubah skor menjadi 1-1.
Setelah itu, laga seperti hanya punya satu arah: gawang Ceko.
Gol kedua akhirnya datang di menit 80. Umpan silang Hwang In-beom dari sisi kanan disambar Oh Heon-gyu yang berdiri bebas di depan gawang. Sederhana, cepat, dan mematikan. 2-1 Korea Selatan berbalik memimpin.
Ceko mencoba merespons, tapi setiap usaha mereka selalu berhadapan dengan satu nama: Kim Seung-gyu. Kiper Korea Selatan itu menutup pintu dengan penyelamatan krusial di menit akhir, memastikan tidak ada jalan pulang bagi Ceko selain kekalahan.
Saat peluit panjang berbunyi, cerita pun selesai dengan cara paling pahit bagi Ceko dan paling manis bagi Korea Selatan: dari tertinggal, menjadi pemenang. (*)
