“Penghematan bisa lebih dari 80 persen. Selain itu, kerja di sawah juga lebih nyaman karena tidak ada lagi asap dan suara mesin yang bising,” ungkapnya.

Perubahan ini tidak hanya berdampak pada efisiensi ekonomi, tetapi juga pada aspek lingkungan. Sistem pompa listrik dinilai lebih bersih karena tidak menghasilkan emisi gas buang, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap subsidi energi seperti LPG dan solar.

Dari sisi kebijakan, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Sidrap, Ibrahim, menilai program ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menurutnya, transformasi energi di sektor pertanian menjadi salah satu fondasi penting untuk mencapai target ambisius produksi gabah sebesar 1 juta ton di Sidrap.

Target tersebut hanya dapat dicapai jika didukung integrasi sistem irigasi modern, ketersediaan benih unggul, serta penguatan kelembagaan kelompok tani.

“Tanpa pengelolaan air yang baik dan teknologi pertanian yang tepat, target itu akan sulit dicapai,” tegasnya.

Secara analitis, program Electrifying Agriculture menunjukkan pergeseran paradigma pembangunan pertanian dari ketergantungan energi fosil menuju energi listrik yang lebih efisien dan berkelanjutan. Di tengah tekanan biaya produksi dan perubahan iklim, langkah ini menjadi salah satu bentuk adaptasi struktural sektor pertanian terhadap tantangan masa depan.

Jika konsisten dijalankan, Sidrap berpotensi menjadi model nasional pertanian berbasis energi listrik yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan biaya produksi secara signifikan dan memperkuat posisi sebagai salah satu lumbung pangan utama di Indonesia Timur. (*)