MAROS — Di era media sosial, sebuah foto bisa menjadi alat promosi yang jauh lebih kuat dibandingkan baliho atau spanduk. Kesadaran itulah yang melatarbelakangi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menghadirkan program “Spot Foto Ikonik sebagai Identitas Borong” di Dusun Borong, Desa Pattontongan, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
Program yang terlihat sederhana ini sejatinya menyimpan tujuan yang lebih besar. Bukan sekadar menyediakan lokasi untuk berfoto, melainkan membangun identitas visual yang mampu memperkenalkan Dusun Borong kepada masyarakat luas.
Di tengah persaingan promosi destinasi dan wilayah melalui platform digital, keberadaan sebuah ikon dinilai semakin penting. Banyak daerah kini dikenal bukan karena iklan besar-besaran, melainkan karena satu titik foto yang sering muncul di media sosial.
Melihat peluang tersebut, mahasiswa KKN Unhas bersama masyarakat setempat bergotong royong membangun spot foto yang diharapkan menjadi penanda khas Dusun Borong.
Proses pengerjaannya melibatkan warga dan mahasiswa, sehingga tidak hanya menghasilkan sebuah fasilitas baru, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Program ini digagas oleh enam mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin, yakni Peres Anugra Rante Pasau dari Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik, Muh. Ghazi Al-Ghifari dari Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Alisha Malika Rustam dan Suci Shoima dari Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Andi Ufrayra Divany Haerul dari Program Studi Agribisnis Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, serta Kartika Sari Dewi dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Menurut Peres Anugra Rante Pasau, keberadaan spot foto tersebut diharapkan dapat menjadi simbol yang melekat dengan Dusun Borong sekaligus menjadi sarana promosi potensi desa.
“Kami berharap spot foto ini tidak hanya menjadi tempat berfoto, tetapi juga menjadi simbol identitas Dusun Borong yang dapat memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat luas serta menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap lingkungannya,” ujarnya.
Dari sudut pandang pembangunan desa, langkah ini memiliki makna yang cukup menarik. Selama ini banyak program pengembangan desa berfokus pada pembangunan fisik berskala besar. Namun di era digital, identitas visual juga menjadi aset yang tidak kalah penting.
Sebuah foto yang diunggah warga atau pengunjung ke media sosial dapat menjangkau ribuan orang tanpa biaya promosi tambahan. Efek inilah yang diharapkan muncul dari keberadaan spot foto ikonik tersebut.
Selain berfungsi sebagai sarana dokumentasi, lokasi tersebut juga diharapkan menjadi ruang publik yang memperkuat interaksi sosial masyarakat setempat.
Mahasiswa KKN Unhas berharap masyarakat dapat menjaga dan memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai milik bersama. Dengan perawatan yang baik, ikon baru ini diyakini mampu membantu meningkatkan citra Dusun Borong sekaligus memperluas promosi desa melalui kekuatan media digital.
Bagi Dusun Borong, spot foto itu mungkin hanya sebuah bangunan sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan harapan besar agar nama dusun semakin dikenal, masyarakat semakin bangga terhadap daerahnya, dan potensi lokal dapat menjangkau publik yang lebih luas.
Salam dari kami:
Peres Anugra Rante Pasau (Teknik Elektro, Fakultas Teknik)
Muh. Ghazi Al-Ghifari (Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
Alisha Malika Rustam (Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
Suci Shoima (Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
Andi Ufrayra Divany Haerul (Agribisnis Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan)
Kartika Sari Dewi (Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
Mahasiswa KKN Gelombang 116 Universitas Hasanuddin, Posko Desa Pattontongan, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
