Wajo, Katasulsel.com β€” Jika Yogyakarta dikenal dengan batiknya, maka Sulawesi Selatan memiliki Kain Tenun Sutera Sengkang yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Bugis selama ratusan tahun. Kain tenun yang berasal dari Kabupaten Wajo ini dikenal karena kualitas sutranya yang halus, motif yang sarat makna, serta proses pembuatannya yang masih mempertahankan teknik tradisional.

Wajo bahkan dikenal sebagai salah satu sentra produksi sutra terbesar di Sulawesi Selatan. Di sejumlah desa seperti Pakanna, aktivitas menenun masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Keterampilan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga.

Motif pada tenun Sengkang umumnya berbentuk garis vertikal, kotak-kotak, serta pola geometris yang terinspirasi dari alam dan filosofi kehidupan masyarakat Bugis. Beberapa motif dipercaya melambangkan kemakmuran, kesuburan, kehormatan, hingga harapan akan kehidupan yang seimbang.

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan wisatawan adalah cara membedakan sutera asli dengan sutera sintetis. Kain sutera asli biasanya memiliki tekstur lebih lembut, terasa dingin saat disentuh, dan menghasilkan kilau alami yang berubah mengikuti arah cahaya. Sementara sutera sintetis cenderung memiliki kilau yang lebih mencolok dan teksturnya terasa lebih kaku.

Kain tenun sutera Sengkang hingga kini masih digunakan dalam berbagai acara adat Bugis, mulai dari pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, hingga upacara budaya. Tidak sedikit pula desainer nasional yang memanfaatkan kain ini sebagai bahan busana modern.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Selatan, membawa pulang tenun sutera Sengkang bukan sekadar membeli oleh-oleh, tetapi juga ikut menjaga keberlangsungan salah satu warisan budaya Nusantara yang berharga.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Wajo terbaru di sini