Makassar, katasulsel.com β Warisan sejarah dan nilai kebudayaan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali diperkenalkan ke ruang publik melalui pendekatan yang berbeda. Sosok legendaris Bugis, Nene Mallomo, diangkat dalam pementasan drama oleh siswa SD Islam Athirah 2 Bukit Baruga, yang digelar di Aula Gedung Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar, Ahad (24/5/2026).
Pementasan itu tak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga ruang edukasi yang menghidupkan kembali nilai moral, kepemimpinan, serta kebijaksanaan yang melekat pada tokoh besar dalam sejarah Bugis tersebut.
Suasana aula dipenuhi antusiasme para orang tua siswa, undangan, tokoh pendidikan, hingga jajaran pemerintah daerah. Hadir langsung dalam kegiatan itu, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, yang memberikan apresiasi atas upaya mengenalkan sejarah lokal melalui panggung kreatif anak-anak.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis budaya dan sejarah daerah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Lewat penampilan para siswa, kisah Nene Mallomo digambarkan secara runtut, mulai dari perannya sebagai penasihat kerajaan hingga nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan kepada masyarakat Bugis.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, mengaku terkesan dengan kedalaman materi dan cara para siswa menyajikan sejarah tersebut.
βTerima kasih atas penampilannya. Saya sangat terkesan dan bangga melihat pentas seni legenda Nene Mallomo yang tergambar begitu detail dan jelas mengenai peristiwa pada masa Kerajaan Lapatiroi, ketika Nene Mallomo menjadi penasihat kerajaan,β ujarnya.
Menurut Syaharuddin, legenda Nene Mallomo bukan hanya kisah masa lalu, tetapi bagian dari akar sejarah Sidrap yang berkaitan erat dengan identitas daerah hingga saat ini.
Ia menyebut, dari nilai kebijaksanaan dan kepemimpinan yang tumbuh pada masa itu, Sidrap berkembang menjadi salah satu daerah strategis di Sulawesi Selatan, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan.
βDari masa itulah permulaan Kabupaten Sidrap dikenal sebagai lumbung beras Indonesia. Hingga sekarang, Sidrap tetap bertahan sebagai lumbung beras Indonesia, lumbung telur Indonesia, lumbung energi terbarukan Indonesia, dan juga lumbung penghafal Al-Qurβan Indonesia,β kata Syaharuddin.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengulas istilah Addatuang, yang pada masa kerajaan digunakan sebagai sebutan pemimpin pemerintahan.
βAddatuang itu adalah sebutan pemimpin di masa kerajaan, kalau sekarang disebut Bupati,β jelasnya.
Melihat besarnya nilai edukasi dari pementasan tersebut, Syaharuddin bahkan mengundang pihak SD Islam Athirah untuk kembali menampilkan drama legenda Nene Mallomo di Kabupaten Sidrap.
Sementara itu, Kepala SD Islam Athirah 2 Bukit Baruga, Taswil Mardi, mengatakan pementasan itu diharapkan memberi dampak besar bagi siswa, tidak hanya dari sisi seni, tetapi juga pemahaman sejarah dan pembentukan karakter.
βBagaimana ilmu yang didapatkan anak-anak kita bisa diimplementasikan dan memberikan dampak besar bagi kehidupan mereka ke depan,β ungkapnya.
Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, menambahkan bahwa memperkenalkan kisah legenda kepada anak sejak dini merupakan bagian penting dalam membangun generasi yang berkarakter, berbudaya, dan menghargai sejarah daerahnya.
……………
Pementasan itu turut dihadiri Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Sulsel Sultan Rakib, Asisten Administrasi Umum Sidrap Nasruddin Waris, Kepala Dinas Kominfo Sidrap Mahluddin, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sidrap Suharya Angriani, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidrap Sirajuddin, serta para wali murid dan undangan lainnya.
Di tengah derasnya perkembangan zaman, panggung kecil di Makassar itu seolah menegaskan satu hal: warisan budaya tak akan hilang, selama terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)
