Makassar, Katasulsel.com — Di sebuah ruang pelatihan Hotel M-Regency Makassar, suasana tidak hanya dipenuhi materi teknis, tetapi juga penekanan pada hal yang sering luput dari perhatian: cara petugas memperlakukan manusia di lapangan.

Wakil Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Nurkanaah, membuka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 tingkat Kabupaten Sidrap, Senin (8/6/2026). Namun arah pesannya tidak berhenti pada angka, tabel, atau metode pendataan.

Ia justru mengingatkan bahwa sensus bukan hanya urusan statistik, tetapi juga urusan sikap dan etika saat berhadapan dengan warga.

“Petugas sensus adalah ujung tombak. Karena itu harus ramah, santun, dan mampu berkomunikasi dengan baik,” ujar Nurkanaah.

Dalam bahasa sederhana, pesan itu bisa dimaknai seperti ini: data yang baik tidak lahir hanya dari kuesioner yang diisi lengkap, tetapi juga dari bagaimana pintu rumah warga dibuka dengan rasa percaya.

Di lapangan nanti, para petugas tidak hanya berhadapan dengan angka dan pelaku usaha, tetapi juga dengan manusia yang punya kebiasaan, keraguan, dan cara sendiri dalam menerima orang asing yang datang bertanya.

Di titik itu, etika menjadi semacam “kunci masuk” sebelum data benar-benar bisa diperoleh.

Karena itu, Nurkanaah menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam setiap interaksi. Bukan sekadar datang, mengisi, lalu pergi, tetapi membangun komunikasi yang membuat masyarakat merasa dihargai.

“Ketika turun ke rumah penduduk maupun pelaku usaha, bangun komunikasi yang positif dan jelaskan tujuan sensus ini,” pesannya.

Sensus Ekonomi 2026 sendiri bukan sekadar agenda rutin pengumpulan data. Ia menjadi salah satu fondasi penting dalam penyusunan arah kebijakan pembangunan daerah. Dari data inilah pemerintah membaca struktur ekonomi, memetakan usaha, hingga merancang strategi ke depan.

Namun sebelum sampai ke angka-angka tersebut, semuanya selalu dimulai dari hal yang sangat sederhana: cara petugas mengetuk pintu.

Pelatihan ini diikuti puluhan Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) dan ratusan Petugas Pencacah Lapangan (PPL). Sebelum turun ke lapangan, para peserta telah melalui pembelajaran mandiri melalui platform digital GOJAGS Classroom, lalu dilanjutkan dengan pembelajaran tatap muka di Makassar.

Di tahap ini, mereka tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga cara membaca situasi sosial di masyarakat.

Karena dalam praktiknya, sensus bukan hanya soal angka yang dikumpulkan, tetapi juga soal bagaimana membangun kepercayaan agar data benar-benar bisa diperoleh dengan baik.

Di titik inilah sensus berubah dari sekadar pekerjaan administratif menjadi proses sosial yang sangat manusiawi.

Dan pada akhirnya, kualitas data sering kali ditentukan bukan oleh seberapa canggih alat yang digunakan, tetapi oleh cara seseorang memperlakukan orang lain di awal pertemuan.

Sensus, seperti diingatkan dalam pelatihan ini, selalu dimulai dari sebuah senyum di depan pintu rumah warga. (*)