Makassar, Katasulsel.com — Tidak ada riuh perebutan suara. Tidak ada ketegangan menunggu hasil penghitungan. Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan 2026 justru menghadirkan pemandangan yang jarang terjadi dalam dinamika organisasi profesi: kemenangan yang lahir dari kesepahaman.

Di Ballroom Graha Pena Makassar, Selasa (2/6/2026), nama Ir. H. Suwardi Thahir, M.I.Kom resmi ditetapkan sebagai Ketua PWI Sulsel periode 2026-2031. Bersama dirinya, Dr. H.M. Dahlan Abubakar, M.Hum dipercaya memimpin Dewan Kehormatan (DK) PWI Sulsel.

Keduanya melenggang melalui jalur aklamasi setelah kandidat lain, Amrullah Basri, memutuskan mundur dari bursa pencalonan. Forum pun bulat menyepakati duet tersebut sebagai pemimpin baru organisasi wartawan terbesar di Sulawesi Selatan.

Bagi banyak peserta konferensi, hasil ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Aklamasi dipandang sebagai sinyal kuat bahwa mayoritas anggota menginginkan organisasi bergerak dalam suasana yang lebih teduh dan fokus menghadapi tantangan profesi yang semakin kompleks.

Nama Suwardi Thahir bukanlah sosok baru di kalangan wartawan Sulsel. Puluhan tahun berkecimpung di dunia pers membuatnya dikenal sebagai figur yang dekat dengan isu peningkatan kompetensi wartawan. Perannya sebagai penguji senior Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menjadi salah satu jejak yang paling dikenal di kalangan jurnalis.

Di sisi lain, Dahlan Abubakar membawa pengalaman panjang yang tak kalah kuat. Wartawan senior yang juga dikenal sebagai penulis produktif ini memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi dan dunia media. Lebih dari 50 buku telah lahir dari tangannya, sementara kiprahnya di PWI telah berlangsung sejak era 1980-an.

Sesaat setelah ditetapkan, Suwardi menyampaikan pesan yang cukup menarik perhatian peserta konferensi. Ia menegaskan keinginannya menjadikan PWI Sulsel sebagai rumah besar yang terbuka bagi seluruh wartawan.

Menurutnya, organisasi profesi tidak boleh terjebak dalam sekat-sekat kelompok atau kepentingan tertentu. Sebaliknya, PWI harus menjadi ruang bersama yang mampu merangkul seluruh anggota tanpa membedakan latar belakang media maupun pilihan organisasi.

Pernyataan itu muncul di tengah tantangan yang sedang dihadapi industri media saat ini. Gelombang disrupsi digital, perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, tekanan ekonomi media, hingga maraknya penyebaran hoaks menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi organisasi wartawan.

Karena itu, kepemimpinan baru PWI Sulsel tidak hanya dituntut menjaga soliditas internal organisasi, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di kalangan jurnalis.

Program pelatihan, pendidikan jurnalistik, sertifikasi kompetensi, hingga penguatan etika profesi diperkirakan akan menjadi agenda penting dalam lima tahun ke depan.

Konferensi kali ini pun terasa lebih dari sekadar pergantian pengurus. Ia menjadi penanda dimulainya babak baru bagi organisasi yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi wartawan di Sulawesi Selatan.

Di tengah derasnya arus informasi dan semakin tipisnya batas antara fakta dan disinformasi, harapan besar kini bertumpu pada kepemimpinan baru tersebut: menjaga marwah profesi, memperkuat kompetensi wartawan, dan memastikan pers tetap berdiri sebagai salah satu pilar demokrasi yang dipercaya publik. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita