Soppeng, Katasulsel.com — Kasus anemia pada remaja putri masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang mendapat perhatian serius pemerintah. Kondisi yang sering ditandai dengan mudah lelah, pusing, hingga menurunnya konsentrasi belajar itu dapat berdampak pada kualitas kesehatan generasi muda jika tidak ditangani sejak dini.
Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin membentuk Komunitas DOKCIL “Remaja Sehat Bebas Anemia” di Pondok Tahfidz Qur’an Rafi’u Al-Darajat Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng.
Program yang dilaksanakan pada 30 Juni 2026 itu menjadi salah satu langkah nyata untuk meningkatkan kesadaran remaja putri mengenai pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin sebagai upaya mencegah anemia.
Menariknya, program ini tidak hanya berfokus pada penyuluhan kesehatan. Mahasiswa Unhas juga membentuk komunitas khusus yang beranggotakan santriwati untuk menjadi penggerak kesehatan di lingkungan pondok pesantren.
Mereka bertugas mengingatkan jadwal konsumsi Tablet Tambah Darah, memberikan edukasi kepada teman sebaya, sekaligus menjadi contoh dalam membangun kebiasaan hidup sehat di kalangan remaja putri.
Koordinator Desa Laringgi PBL III FKM Unhas Tahun 2026, Nur Fitri Dahlan, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis teman sebaya dinilai lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku remaja.
“Remaja cenderung lebih mudah menerima informasi dan ajakan dari teman sebayanya. Karena itu, komunitas ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak pencegahan anemia di lingkungan pondok dan masyarakat,” ujarnya.
Pelantikan anggota komunitas dipandu oleh Ahmad Musyari Shabir dari Pondok Tahfidz Qur’an Rafi’u Al-Darajat Welonge. Para anggota yang terpilih sebelumnya telah melalui proses seleksi dan dinilai siap menjalankan peran sebagai kader kesehatan remaja.
Selain pelantikan, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai bahaya anemia, manfaat Tablet Tambah Darah, serta strategi edukasi kesehatan yang dapat diterapkan kepada teman-teman mereka.
Bagi Kabupaten Soppeng, program ini dinilai penting karena kesehatan remaja putri merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat dan produktif. Kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah juga menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam menekan risiko anemia pada usia remaja.
Melalui pembentukan Komunitas DOKCIL “Remaja Sehat Bebas Anemia”, mahasiswa FKM Unhas berharap Pondok Tahfidz Qur’an Rafi’u Al-Darajat dapat menjadi contoh bagi sekolah maupun pesantren lainnya di Kabupaten Soppeng dalam membangun gerakan pencegahan anemia berbasis partisipasi remaja.
Jika berjalan berkelanjutan, komunitas tersebut tidak hanya membantu meningkatkan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah, tetapi juga dapat melahirkan kader-kader kesehatan muda yang mampu mengedukasi masyarakat di lingkungannya.
Program ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan, melalui penguatan peran remaja dalam menjaga kesehatan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Dengan lahirnya komunitas ini, Desa Laringgi kembali menunjukkan bahwa perubahan besar dalam dunia kesehatan dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni saling mengingatkan, saling peduli, dan bergerak bersama untuk melahirkan generasi Soppeng yang sehat dan bebas anemia. (din)
