Soppeng, Katasulsel.com — Sampah rumah tangga yang selama ini berakhir di tempat pembuangan ternyata bisa menjadi sumber manfaat bagi keluarga. Pesan itulah yang dibawa Mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin saat menggelar pelatihan pembuatan komposter sederhana bagi warga Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 1 Juli 2026, di kediaman Ketua RT, Herawati, itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga tidak hanya datang untuk mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan cara mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk tanaman pekarangan maupun lahan pertanian.

Bagi masyarakat Soppeng yang sebagian besar masih memiliki kebun dan lahan produktif, keterampilan tersebut dinilai sangat relevan. Selain membantu mengurangi sampah, pupuk kompos yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas bercocok tanam tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia.

Pelatihan menghadirkan Asrul Arifin Aliah, S.P., sebagai instruktur. Di hadapan peserta, ia memperagakan tahapan pembuatan komposter sederhana menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Mulai dari pemilahan sampah organik, proses penyusunan bahan, hingga teknik perawatan komposter dijelaskan secara rinci agar dapat diterapkan langsung oleh warga setelah pelatihan berakhir.

Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Banyak warga memanfaatkan sesi diskusi untuk menanyakan jenis sampah yang dapat dijadikan kompos, waktu penguraian, hingga cara menghasilkan pupuk yang berkualitas untuk tanaman.

Suasana pelatihan berlangsung hidup karena sebagian besar peserta ternyata sudah memiliki pengalaman berkebun dan ingin memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai alternatif pupuk yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Menariknya, seluruh peserta berhasil merakit komposter sederhana mereka sendiri. Hasil rakitan tersebut dibawa pulang untuk digunakan di rumah masing-masing sebagai langkah awal membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah dari sumbernya.

Mahasiswa PBL III FKM Unhas menilai persoalan sampah bukan hanya isu perkotaan, tetapi juga menjadi tantangan di wilayah pedesaan. Jika tidak dikelola dengan baik, timbunan sampah dapat memicu pencemaran lingkungan dan menjadi sumber berbagai penyakit.

Karena itu, edukasi pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dianggap sebagai salah satu solusi yang paling realistis dan berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, pelatihan ini sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat Soppeng memiliki potensi besar untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular sederhana, yakni mengubah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat.

Melalui program tersebut, Desa Laringgi tidak hanya belajar cara membuat komposter, tetapi juga memperkuat budaya gotong royong dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dari dapur rumah warga, lahir langkah kecil yang berpotensi memberi dampak besar bagi kebersihan desa, produktivitas pertanian, dan kesehatan masyarakat Soppeng di masa mendatang. (*)