Soppeng, Katasulsel.com – Di banyak rumah, daun salam hanya dikenal sebagai pelengkap masakan. Daun jeruk dipetik saat dibutuhkan untuk menambah aroma makanan. Sementara jambu biji dan daun sirsak tumbuh tanpa banyak mendapat perhatian.
Namun di Desa Congko, Kabupaten Soppeng, tanaman-tanaman tersebut kini mendapat makna baru.
Melalui kegiatan edukasi dan penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang diinisiasi mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas), warga diajak melihat bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar rumah juga menyimpan potensi besar untuk mendukung kesehatan keluarga.
Kegiatan yang berlangsung Minggu (29/6/2026) itu memadukan penyuluhan kesehatan dengan aksi penanaman tanaman herbal di lahan milik warga.
Edukasi disampaikan oleh Nurul Istihara yang mengangkat pentingnya pemanfaatan TOGA sebagai bagian dari gaya hidup sehat berbasis potensi lokal. Menurutnya, berbagai tanaman herbal telah lama dikenal masyarakat sebagai alternatif pendukung kesehatan yang mudah dijangkau.
Setelah sesi penyuluhan, warga bersama mahasiswa menanam lima jenis tanaman, yakni daun sirsak, jambu biji, pucuk merah, daun salam, dan daun jeruk.
Pemilihan tanaman tersebut bukan tanpa alasan. Selain mudah dibudidayakan, tanaman itu relatif cocok dengan kondisi lingkungan setempat dan telah akrab dengan kehidupan masyarakat pedesaan.
Yang menarik, kegiatan ini tidak hanya berbicara soal tanaman. Di balik proses penanaman, tersimpan upaya membangun kesadaran bahwa kesehatan tidak selalu dimulai dari fasilitas kesehatan, tetapi juga dari kebiasaan sederhana yang tumbuh di lingkungan keluarga.
Suasana gotong royong tampak mewarnai seluruh rangkaian kegiatan. Warga terlibat aktif mulai dari menyiapkan lahan, mengatur bibit, hingga proses penanaman.
Bagi mahasiswa PBL III FKM Unhas, kebun TOGA yang mulai tumbuh di Desa Congko diharapkan menjadi ruang belajar bersama yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Keberadaannya bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah semakin terbatasnya ruang hijau dan perubahan gaya hidup masyarakat, gerakan kecil dari Desa Congko ini membawa pesan sederhana namun penting: memanfaatkan pekarangan rumah dapat menjadi langkah awal membangun keluarga yang lebih sehat, mandiri, dan dekat dengan kekayaan alam di sekitarnya.(*)
