SIDRAP, Katasulsel.com – Jika ada yang bertanya di mana jejak pembangunan yang masih “hidup” di Sidrap, sebagian warga akan menunjuk tiga hal tanpa ragu. Jalan beton, Sirkuit Puncak Mario, dan satu kawasan yang paling sering memantik perbincangan: Kantor Bersama Pemkab Sidrap.
Tiga warisan ini bukan hanya berdiri sebagai bangunan, tetapi juga terus dipakai, dilalui, dan dijalankan fungsinya hingga hari ini. Di tengah pergantian kepemimpinan daerah, nama Rusdi Masse Mappasessu (RMS) masih kerap muncul ketika warga membicarakan infrastruktur yang dianggap paling “terasa manfaatnya”.
Jalan Beton: Diam, Tapi Tidak Pernah Berhenti Bekerja
Di banyak titik Sidrap, jalan beton yang dibangun pada era RMS masih menjadi jalur utama warga. Ia tidak banyak bicara, tidak viral, tapi setiap hari dilalui truk, motor, hingga hasil panen petani.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Warga menyebutnya sederhana: “ini jalan lama, tapi masih kuat.” Dalam bahasa pembangunan, itu sudah cukup menjadi penilaian yang tidak perlu banyak debat.
Sirkuit Puncak Mario: Dari Aspal ke Gema Mesin
Warisan kedua adalah Sirkuit Balap Motor Puncak Mario Rappang. Tempat ini bukan sekadar lintasan, tetapi ruang hidup bagi dunia otomotif Sidrap.
Event balap motor masih berlangsung, komunitas masih datang, dan suara knalpot masih menjadi “musik rutin” di kawasan itu. Sirkuit ini membuat Sidrap beberapa kali masuk percakapan otomotif Sulawesi, bahkan di luar daerah.
Kantor Bersama: “Mini IKN” dari Sidrap
Nah, yang paling sering jadi bahan cerita adalah ini: Kantor Bupati dan Kompleks Gabungan Dinas Pemkab Sidrap.
Bukan karena ukurannya besar, tapi karena konsepnya yang terpusat. Satu kawasan, banyak instansi. Semua layanan pemerintahan berada dalam satu lingkungan yang saling terhubung.
Di sinilah muncul istilah dari warga: “ini seperti mini IKN versi Sidrap.”
Bukan dalam arti skala, tentu saja. Tapi dalam konsep: pusat pemerintahan yang terkonsentrasi, tidak terpencar, dan mudah diakses.
Hingga hari ini, kompleks tersebut masih menjadi pusat aktivitas birokrasi Sidrap. Dari urusan administrasi hingga koordinasi lintas dinas, semuanya berputar di satu titik itu.
Tiga Warisan, Satu Benang Merah
Jika ditarik garis sederhana, tiga warisan ini punya satu kesamaan: masih dipakai sampai sekarang.
Bukan sekadar berdiri sebagai simbol masa lalu, tetapi tetap bekerja di masa kini.
Dan di situlah perdebatan kecil warga kadang muncul di warung kopi: soal siapa membangun apa, dan apa yang masih terasa manfaatnya.
Namun di luar itu semua, satu hal tidak berubah—nama RMS masih sering disebut ketika Sidrap bicara tentang infrastruktur yang bertahan melawan waktu. (*)
