SIDRAP, Katasulsel.com — Di banyak daerah, inflasi sering dianggap kabar buruk. Namun di Kabupaten Sidenreng Rappang, angka inflasi yang tertinggi di Sulawesi Selatan justru bisa dibaca dari sudut pandang yang berbeda.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi tahunan Sulawesi Selatan pada Mei 2026 sebesar 3,12 persen. Dari delapan daerah yang menjadi sampel penghitungan, Sidrap mencatat angka tertinggi yakni 4,04 persen.
Sekilas angka itu terlihat mengkhawatirkan. Namun para ekonom kerap menyebut inflasi moderat sebagai tanda bahwa aktivitas ekonomi sedang bergerak. Uang beredar, transaksi meningkat, daya beli tumbuh, dan pasar menjadi lebih hidup.
Fenomena itu sejalan dengan kondisi Sidrap saat ini. Kabupaten yang dikenal sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan tersebut tengah menikmati geliat ekonomi yang cukup tinggi. Sektor pertanian terus berproduksi, perdagangan berkembang, pembangunan infrastruktur berlangsung di berbagai titik, sementara aktivitas masyarakat semakin dinamis.
Dalam teori ekonomi, ketika perputaran uang meningkat dan konsumsi masyarakat bertambah, harga barang dan jasa cenderung ikut bergerak naik. Itulah sebabnya daerah yang ekonominya tumbuh cepat sering kali mencatat inflasi lebih tinggi dibanding daerah yang aktivitas ekonominya relatif stagnan.
Menariknya, ini bukan kali pertama Sidrap berada di posisi teratas. Pada Januari, Februari hingga April 2026, Sidrap juga tercatat sebagai daerah dengan inflasi tertinggi di Sulawesi Selatan. Artinya, ada pola yang menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi daerah dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagai daerah penghasil beras, telur, dan berbagai komoditas pertanian, Sidrap memang menjadi salah satu pusat pergerakan ekonomi di Sulawesi Selatan. Program peningkatan produksi pertanian, penguatan hilirisasi, serta aktivitas perdagangan antarwilayah ikut mendorong perputaran ekonomi yang lebih besar.
Tentu inflasi tetap harus dijaga agar tidak terlalu tinggi. Namun selama masih berada dalam batas yang terkendali, kenaikan harga sering menjadi konsekuensi dari meningkatnya aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Karena itu, angka 4,04 persen bukan semata-mata soal harga yang naik. Di baliknya terdapat gambaran bahwa roda ekonomi Sidrap sedang berputar lebih cepat dibanding banyak daerah lain di Sulawesi Selatan.
Bagi Bumi Nene Mallomo, tantangan berikutnya bukan hanya menjaga produksi tetap tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan ekonomi yang kuat itu terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat hingga ke tingkat paling bawah. (*)










