Makassar, katasulsel.comAngka inflasi di Sulawesi Selatan kali ini seperti cerita dua wajah ekonomi daerah. Satu sisi “panas”, satu sisi “adem”. Dan di tengahnya, Sidenreng Rappang berdiri sebagai yang paling terasa getarannya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi year on year (y-on-y) Mei 2026 sebesar 3,12 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 111,66. Pengamatan dilakukan di delapan kabupaten/kota: Bulukumba, Watampone, Wajo, Sidenreng Rappang, Luwu Timur, Makassar, Parepare, dan Palopo.

Yang menarik, Sidrap justru jadi “juara” inflasi dengan 4,04 persen. Sementara Palopo seperti menjaga rem tangan ekonomi: hanya 2,25 persen.

Di angka-angka ini, selalu ada cerita di balik pasar. Bukan sekadar statistik.

BPS mencatat, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak 10,62 persen—ini semacam “emas dan gaya hidup” yang ikut mengangkat indeks harga. Disusul makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,4 persen—kelompok yang hampir selalu jadi aktor utama setiap kali inflasi dibacakan.

Secara kasat mata, Sidrap memang punya karakter ekonomi yang “cepat bereaksi”. Harga sedikit naik di pasar, langsung terasa sampai ke dapur rumah tangga. Dalam bahasa ekonom, ini sering disebut high price sensitivity region—wilayah yang sangat peka terhadap perubahan harga.

Seorang akademisi ekonomi di Makassar, Abd Rahim mengatakan, angka inflasi seperti ini jangan langsung dibaca dengan nada panik.

“Inflasi 4 persen itu masih dalam batas wajar. Jangan buru-buru dianggap buruk. Ini lebih kepada dinamika pasar yang hidup,” ujarnya di Makassar.

Ia bahkan menyebut istilah yang cukup “ekonomis”: inflation is not always enemy. Dalam kadar tertentu, inflasi justru tanda ekonomi tidak beku.

Di sisi lain, Palopo yang hanya 2,25 persen menunjukkan kondisi harga yang lebih stabil, atau bisa juga berarti tekanan permintaan yang lebih jinak dibanding daerah lain.

BPS juga mencatat, secara provinsi Sulsel masih berada dalam jalur moderat: inflasi bulanan 0,09 persen dan year to date 2,18 persen. Artinya, secara makro, mesin ekonomi masih berjalan normal—tidak ngebut, tapi juga tidak mogok.

Komoditas yang paling sering “muncul di panggung inflasi” tetap sama: beras, cabai, tomat, minyak goreng, hingga emas perhiasan. Nama-nama lama yang selalu punya peran baru setiap bulan.

Jika dibaca dengan kacamata yang lebih luas, Sidrap bukan sedang “kalah” atau “tertekan”. Ia hanya sedang menjadi cermin paling sensitif dari ekonomi rakyat: cepat panas, cepat terasa, tapi tetap bergerak dalam ritme pasar yang hidup. (*)