Enrekang, katasulsel.com — Pagi itu matahari belum terlalu tinggi. Tapi Lapangan Abubakar Lambogo sudah penuh. Warga datang membawa sajadah. Anak-anak berlarian kecil. Orang tua duduk tenang. Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Enrekang bukan sekadar ritual tahunan.
Ada pesan yang terasa lebih dalam tahun ini.
Di hadapan ribuan jamaah, Bupati Enrekang, Yusuf Ritangga, tidak memilih pidato yang penuh angka dan janji tinggi. Ia justru berbicara apa adanya. Tentang pengorbanan. Tentang keadaan daerah. Tentang harapan yang belum boleh padam.
Suasana mendadak sunyi saat ia menyinggung kondisi Enrekang yang masih berada dalam tekanan fiskal.
“Kita sadari kondisi daerah kita saat ini masih dalam keadaan defisit, namun pemerintah tidak tinggal diam,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana. Tapi terasa berat.
Di momen Idul Adha yang identik dengan keikhlasan berkurban, Yusuf Ritangga seperti sedang mengirim pesan langsung kepada masyarakatnya: pemerintah tidak sedang baik-baik saja, tetapi tidak akan menyerah.
Ia lalu mengajak warga meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tentang kepatuhan. Tentang rela melepas ego. Tentang kesediaan berkorban demi masa depan yang lebih besar.
Tidak ada nada meledak-ledak. Tidak ada gaya berapi-api. Justru itu yang membuat sambutannya terasa dekat.
Beberapa jamaah tampak mengangguk pelan. Sebagian memilih diam mendengar.
Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Ia meminta masyarakat tetap saling membantu dan tidak kehilangan semangat gotong royong.
“Sedikit demi sedikit akan kita benahi bersama menuju Enrekang yang lebih sejahtera,” katanya lagi.
Hari raya itu akhirnya terasa bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban. Tetapi juga tentang keberanian menyampaikan kenyataan di depan rakyat sendiri.
Usai salat Id, warga saling bersalaman. Anak-anak memeluk orang tua mereka. Sejumlah pejabat tampak berbincang santai di pinggir lapangan. Hadir pula unsur Forkopimda, mulai dari Sekda, Kapolres, Dandim hingga Ketua DPRD Kabupaten Enrekang.
Namun pagi itu, yang paling tinggal di kepala warga mungkin bukan seremoni. Melainkan satu pengakuan jujur dari seorang bupati di hari raya: daerah ini sedang tidak mudah, tapi harapan tidak boleh ikut habis. (Fungfi)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
