Slogan βSidrap Maju dan Sejahteraβ kemudian menjadi payung besar dari narasi pembangunan yang sedang dibangun pemerintah daerah saat ini.
Namun dalam perspektif jurnalistik pembangunan, jumlah penghargaan kerap hanya menjadi indikator permukaan. Pertanyaan yang lebih mendasar tetap mengemuka: sejauh mana capaian makro itu benar-benar turun menjadi dampak mikro yang dirasakan masyarakat di desa, sekolah, pasar, dan ruang layanan publik lainnya.
Secara regional, capaian WTP ke-10 dan 38 penghargaan dalam waktu relatif singkat menempatkan Sidrap dalam posisi yang cukup menonjol di Sulawesi Selatan. Secara politik dan birokrasi, ini menjadi modal reputasi yang kuat.
Namun dalam praktik pemerintahan, reputasi selalu diuji oleh waktu. Konsistensi pelayanan publik, efektivitas program, serta pemerataan manfaat pembangunan tetap menjadi parameter utama yang tidak selalu tercermin dalam angka penghargaan.
Di titik ini, Sidrap berada pada fase yang menarik: reputasi sudah terbentuk, tetapi pembuktian jangka panjang masih terus berjalan.
Karena pada akhirnya, dalam logika tata kelola daerah, angka bisa dicatat, penghargaan bisa dipajang, tetapi dampak nyata tetap harus dirasakan. Dan di situlah ukuran paling jujur dari sebuah kepemimpinan diuji. (*)
