Makassar, katasulsel.com – Ada daerah yang menunggu investasi datang.
Ada daerah yang mengejar investor ke mana-mana.
Dan ada Sidrap.
Daerah ini memilih cara yang lebih sederhana: membuat orang datang.
Sebanyak mungkin.
Awal Juli nanti, sekitar 65 ribu orang diperkirakan memadati Kabupaten Sidenreng Rappang dalam gelaran Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) tingkat provinsi.
Angka itu bukan sekadar jumlah peserta dan pendamping.
Ia adalah ledakan manusia.
Bayangkan.
Jumlah itu setara penduduk sebuah kecamatan yang berpindah tempat secara bersamaan lalu berkumpul di satu daerah.
Mereka akan makan.
Mereka akan minum.
Mereka akan tidur.
Mereka akan membeli sesuatu.
Dan semua aktivitas sederhana itu memiliki satu efek yang sama: uang bergerak.
Cepat.
Sangat cepat.
Tidak perlu menjadi ekonom untuk memahami apa yang akan terjadi.
Warung kopi akan lebih ramai.
Rumah makan akan menambah stok beras.
Pengusaha penginapan akan tersenyum lebih lebar.
Pedagang kaki lima akan pulang lebih malam.
Bahkan tukang parkir bisa jadi lebih sibuk dibanding biasanya.
Inilah ekonomi yang tidak lahir dari pidato.
Bukan dari seminar.
Bukan pula dari lembar presentasi berisi grafik warna-warni.
Ekonomi itu lahir dari keramaian.
Dari orang-orang yang datang dan membelanjakan uangnya.
Karena itu, keberhasilan Sidrap menjadi tuan rumah event berskala nasional ini dinilai bukan sekadar capaian seremonial.
Ada pesan yang lebih besar di baliknya.
Ekonom Sulawesi Selatan, Prof. Mursalim Nohong, melihat keberhasilan tersebut sebagai bukti meningkatnya kepercayaan publik terhadap daerah yang dipimpin Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif.
Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) itu, kemampuan menghadirkan event besar ke Sidrap merupakan prestasi yang layak diapresiasi.
“Keberhasilan Bupati Syaharuddin Alrif menjadikan Sidrap sebagai tuan rumah event besar ini menunjukkan sebuah prestasi yang patut diacungi jempol sekaligus kepercayaan dari masyarakat tidak hanya Sulawesi Selatan saat ini tetapi juga masyarakat Indonesia di masa yang akan datang,” ujar Prof. Mursalim kepada katasulsel.com, Rabu, 24 Juni 2026.
Bagi Mursalim, keberhasilan tersebut tidak muncul tiba-tiba.
Ada kerja panjang di belakangnya.
Ada upaya membangun kepercayaan.
Ada kemampuan meyakinkan banyak pihak bahwa Sidrap layak menjadi tuan rumah kegiatan nasional.
Lebih jauh, ia menilai langkah tersebut memperlihatkan bagaimana orientasi pembangunan yang dijalankan Syaharuddin Alrif berfokus pada kepentingan daerah.
“Ini juga menjadi bukti nyata kalau Kakak Sahar berpikir dan bekerja untuk Bumi Nene’ Mallomo,” katanya.
Menariknya, Mursalim tidak hanya berbicara soal keramaian sesaat.
Ia menghubungkannya dengan indikator ekonomi yang lebih besar.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sidrap saat ini menunjukkan tren yang menggembirakan dibanding sejumlah daerah lain.
“Capaian angka pertumbuhan Sidrap yang sangat signifikan dibandingkan dengan daerah lain adalah cerminan bagaimana ekonomi dan sosial di Sidrap saat ini bergerak ke arah yang menggembirakan, apalagi jika didorong oleh leading sector daerah,” tambahnya.
Bahasa sederhananya begini.
Daerah yang ramai belum tentu maju.
Tapi daerah yang terus mampu menghadirkan aktivitas ekonomi baru biasanya sedang bergerak ke arah yang benar.
Dan Sidrap sedang berada pada fase itu.
Porsenijar mungkin hanya berlangsung beberapa hari.
Tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang.
Karena setiap tamu yang pulang membawa cerita.
Tentang keramahan warga.
Tentang kuliner.
Tentang suasana daerah.
Tentang Sidrap yang mungkin sebelumnya hanya mereka dengar namanya.
Kini mereka lihat langsung.
Karena itu, bagi sebagian orang, event ini adalah olahraga.
Bagi sebagian lainnya, ini adalah ajang seni.
Tapi bagi para pelaku ekonomi lokal, lima hari itu adalah kesempatan.
Kesempatan yang nilainya mungkin tidak bisa dihitung hanya dengan medali dan piala.
Prof. Mursalim sendiri memastikan masyarakat Sidrap akan berada di barisan yang memberi dukungan.
“Sebagai masyarakat Sidrap, kami tentu juga akan memberikan apresiasi dan dukungan langsung terhadap kerja cerdas Pak Bupati,” tutupnya.
Dan jika 65 ribu orang benar-benar datang seperti yang diperkirakan, maka Sidrap tidak hanya sedang menjadi tuan rumah sebuah event nasional.
Ia sedang menunjukkan satu hal sederhana:
bahwa daerah yang bergerak akan selalu menemukan cara untuk membuat ekonomi ikut berlari. (*)
