Soppeng, katasulsel.com – Di tengah derasnya informasi tentang inflasi, harga kebutuhan pokok, dan cuaca ekstrem, ada satu angka yang mungkin luput dari perhatian warga Soppeng.
58.
Sekilas angka itu terlihat biasa.
Namun pada Sabtu (27/6/2026), angka 58 menjadi penanda kondisi udara yang sedang dihirup ribuan warga Watansoppeng.
Indeks Kualitas Udara (AQI) tercatat berada di level sedang, dengan polutan utama PM2.5 sebesar 13 mikrogram per meter kubik.
Artinya, udara di Soppeng masih tergolong cukup baik untuk aktivitas sehari-hari.
Anak-anak masih bisa bermain di luar rumah.
Pedagang tetap berjualan di pinggir jalan.
Warga masih bisa berolahraga tanpa perlu khawatir berlebihan terhadap paparan polusi.
Berbeda dengan kota-kota besar yang sering diselimuti kabut polusi, Soppeng justru mendapat kabar yang cukup menenangkan.
Tidak ada peringatan kualitas udara berbahaya.
Tidak ada lonjakan polusi yang memaksa masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan.
Bahkan prakiraan beberapa hari ke depan menunjukkan kualitas udara relatif stabil.
Ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi di banyak daerah, udara bersih telah menjadi sesuatu yang mahal.
Jika suatu daerah memiliki tambang, hasil perkebunan, atau destinasi wisata, masyarakat dapat melihat dan menghitung nilainya.
Namun udara bersih berbeda.
Ia tidak terlihat, tidak bisa disentuh, dan sering kali dianggap biasa.
Padahal setiap hari masyarakat menikmatinya secara gratis.
Saat warga Soppeng beraktivitas di pagi hari, berjalan ke pasar, bekerja di sawah, atau sekadar duduk di teras rumah, ada satu hal yang diam-diam ikut menjaga kesehatan mereka: kualitas udara yang masih cukup terjaga.
Hari ini angkanya 58.
Besok bisa lebih baik.
Namun bisa juga memburuk jika lingkungan tidak dijaga.
Karena itu, angka 58 bukan sekadar data lingkungan.
Ia adalah pengingat bahwa salah satu aset terbesar Soppeng bukan hanya alamnya yang hijau, tetapi udara yang masih cukup nyaman untuk dihirup.
Dan tidak semua daerah memiliki keberuntungan yang sama.(*)
