Di tengah hiruk-pikuk politik daerah, sosok seperti Haji Pilli memang menarik dilihat dari sisi yang tidak biasa. Ia dikenal sebagai legislator, tapi di kebun ini identitas itu seperti melebur.

Yang terlihat justru seseorang yang nyaman dengan tanahnya sendiri.

Orang yang tahu kapan harus duduk, kapan harus memetik, dan kapan harus diam.

Kebunnya tidak rapi seperti taman kota. Tapi justru di situlah hidupnya terasa.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Lengkeng tumbuh berdampingan dengan jeruk. Kolam ikan ada di dekat area pohon. Tidak ada sekat yang terlalu kaku.

Seperti cara berpikir yang cair.

Kadang orang datang bukan untuk bicara politik. Tapi hanya untuk duduk sebentar, minum teh atau kopi, lalu pulang dengan kepala yang lebih ringan.

Kebun ini seperti tempat singgah, bukan tempat pamer.

Dan Haji Pilli ada di tengah itu semua.

Bukan sebagai pusat perhatian. Tapi sebagai bagian dari kebun itu sendiri.

Selesai minum jus alpukatnya, ia tidak buru-buru berdiri.

Gelas itu ia taruh pelan di meja.

Ia melihat sekeliling.

Pohon-pohon diam. Angin lewat pelan. Kolam ikan tidak banyak suara.

Seperti dunia sedang melambat sedikit saja.

“Kalau di kebun, kita bisa ingat lagi yang sederhana,” begitu mungkin kalimat yang tidak ia ucapkan, tapi terasa di situ.

Karena memang tidak semua hal harus dijelaskan dengan kata-kata.

Kadang cukup dengan satu buah alpukat, satu blender kecil, dan satu pagi yang tenang di Baranti. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.