Tangannya tidak ragu. Tidak terburu-buru. Seperti orang yang sudah lama paham bahwa hasil kebun tidak bisa dipaksa cepat.

Setelah itu, alpukat masuk ke blender mini.

Sedikit air dituang.

Lalu gula aren.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Klik.

Mesin kecil itu hidup sebentar saja. Tidak lama. Tidak bising.

Selesai.

Segelas jus alpukat berdiri di atas meja kayu itu.

Haji Pilli menatapnya sebentar.

Lalu minum.

Tidak ada komentar berlebihan. Tidak ada gaya β€œreview rasa”. Hanya satu tarikan napas kecil, seperti orang yang selesai dengan sesuatu yang ia mulai sendiri.

Di titik itu, kebun Baranti seperti berhenti menjadi kebun biasa.

Ia berubah jadi ruang cerita.

Orang-orang yang pernah datang ke sini tahu, kebun ini bukan sekadar lahan. Ada kolam ikan. Ada unggas. Ada tanaman yang tumbuh tanpa banyak teori. Bahkan sebagian orang menyebutnya seperti β€œlaboratorium lapangan”—tapi Haji Pilli sendiri tidak pernah menyebut istilah itu dengan serius.

Baginya mungkin lebih sederhana: ini kebun.

Tapi dari kebun ini juga banyak hal dimulai. Diskusi petani. Obrolan harga pupuk. Percakapan politik yang tidak kaku. Bahkan kadang hanya cerita ringan tentang cuaca dan panen.

Tidak semua harus di ruang rapat.

Kadang cukup di bawah pohon alpukat.

β€œKalau di sini lebih enak bicara,” begitu kata beberapa tamu yang pernah singgah. Entah itu petani, pengusaha, atau sesama politisi.

Haji Pilli hanya mendengar. Lebih sering mendengar daripada bicara panjang.

Mungkin karena tanah memang tidak banyak bicara, tapi selalu mengajarkan sesuatu.

Alpukat di tangannya hari itu seolah mengingatkan hal yang sama.

Bahwa sesuatu yang matang tidak perlu dipercepat.

Bahwa proses selalu punya waktunya sendiri.

Dan bahwa tidak semua hal harus diputuskan di ruang formal.

…………Baca yuk

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.