Barru, Katasulsel.com – Ada pemandangan menarik di depan gerbang Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Barru, Selasa (4/8/2026).
Sekitar 30 mahasiswa yang tergabung dalam Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Barru datang membawa megafon, pamflet tuntutan, dan bendera organisasi.
Mereka berorasi.
Mereka menyampaikan kritik.
Mereka mengangkat sejumlah isu internal kampus.
Namun ada satu hal yang menjadi perhatian banyak pihak.
Mereka berhenti di gerbang.
Tidak masuk ke dalam kampus.
Tidak meminta forum dialog terbuka.
Tidak pula melakukan diskusi langsung dengan pimpinan universitas.
Seluruh rangkaian aksi berlangsung di luar pagar kampus.
Padahal, ratusan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Barru menerima kehadiran massa aksi dengan baik dan tetap mengikuti jalannya penyampaian aspirasi secara terbuka.
Aksi yang dipimpin Ahmad selaku jenderal lapangan (Jenlap) itu diawali dengan berkumpulnya peserta di Sekretariat Pikom IMM UM Barru dan Tanete di wilayah Pekkae.
Dari lokasi tersebut, massa bergerak menuju kampus dengan pengawalan aparat kepolisian.
Setibanya di depan kampus, orasi demi orasi mulai disampaikan.
Beberapa isu yang menjadi sorotan antara lain permintaan penegakan keadilan terhadap seorang dosen, dorongan agar tata kelola keuangan kampus semakin transparan dan akuntabel, hingga tuntutan terkait kepemimpinan di lingkungan Unmuh Barru.
Massa aksi menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap Muhammadiyah maupun Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Sebaliknya, mereka mengaku hadir sebagai bagian dari upaya mendorong perbaikan tata kelola institusi agar semakin baik ke depan.
Namun di tengah penyampaian tuntutan itu, muncul pertanyaan yang beredar di kalangan peserta maupun civitas akademika.
Mengapa dialog tidak dilakukan langsung di dalam kampus?
Padahal kampus sejatinya merupakan ruang akademik yang identik dengan tradisi diskusi, pertukaran gagasan, dan pencarian solusi bersama.
Seorang dosen yang menyaksikan jalannya aksi menilai semangat mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi patut diapresiasi.
Namun ia berharap ke depan ruang dialog dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.
“Kami mengapresiasi semangat yang disuarakan adik-adik mahasiswa. Civitas akademika menerima dengan baik maksud dari seruan aksi ini. Namun kami juga berharap ke depan ada ruang dialog yang lebih terbuka, karena isu kampus sebaiknya diselesaikan di dalam kampus,” ujarnya.
Bagi sebagian kalangan akademisi, demonstrasi merupakan bagian dari dinamika kampus yang sehat.
Tetapi dialog tetap menjadi instrumen utama dalam mencari titik temu atas berbagai persoalan yang muncul.
Aksi berlangsung sekitar dua jam.
Pada pukul 15.06 Wita, jenderal lapangan membacakan pernyataan sikap yang berisi sejumlah tuntutan.
Tak lama kemudian, tepat pukul 15.15 Wita, massa membubarkan diri dengan tertib.
Tidak terjadi insiden.
Tidak ada kericuhan.
Lalu lintas tetap terkendali.
Kapolres Barru AKBP Ananda Fauzi Harahap, S.I.K., M.H., mengapresiasi seluruh peserta aksi yang telah menyampaikan aspirasi secara damai dan mematuhi arahan petugas selama kegiatan berlangsung.
“Polri hadir untuk menjamin keamanan seluruh pihak, baik peserta aksi maupun masyarakat pengguna jalan, sehingga penyampaian aspirasi dapat berlangsung secara aman, tertib, dan kondusif. Kami mengapresiasi seluruh peserta aksi yang telah menyampaikan aspirasi dengan damai serta mematuhi arahan petugas di lapangan,” katanya.
Aksi pun berakhir.
Tuntutan telah disampaikan.
Pernyataan sikap telah dibacakan.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
Apakah setelah orasi di depan gerbang, akan ada dialog di dalam kampus?
Sebab dalam dunia akademik, perubahan sering kali lahir bukan dari siapa yang paling keras berbicara, melainkan dari siapa yang bersedia duduk bersama mencari jalan keluar. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Barru Hari Ini .
