Soppeng, katasulsel.com β Hipertensi selama ini dikenal sebagai penyakit yang sering menyerang tanpa tanda-tanda yang jelas. Karena itu, banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius.
Fakta tersebut menjadi perhatian mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) Program Studi Kesehatan Masyarakat yang menggelar program HARMONI (Hidup Aman dari Risiko Hipertensi) di Dusun Dare Ajue, Desa Lalabata Riaja, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, Jumat (3/7/2026).
Menariknya, kegiatan ini mengungkap fakta yang membuat sejumlah peserta terkejut. Salah satunya adalah kenyataan bahwa usia merupakan faktor risiko hipertensi yang tidak dapat diubah.
βBaru hari ini saya tahu kalau bertambahnya usia memang bisa meningkatkan risiko hipertensi dan itu tidak bisa dihindari,β ungkap Hermayanti, salah seorang peserta usai mengikuti kegiatan.
Pernyataan tersebut menggambarkan masih banyaknya informasi penting tentang hipertensi yang belum diketahui masyarakat, khususnya kelompok usia dewasa dan lanjut usia.
Karena itulah mahasiswa PBL memilih menyasar warga berusia 45 tahun ke atas dalam kegiatan edukasi tersebut.
Selama kegiatan berlangsung, peserta diberikan pemahaman mengenai pengertian hipertensi, batas normal tekanan darah, faktor risiko yang dapat maupun tidak dapat diubah, hingga berbagai dampak yang bisa muncul apabila tekanan darah tinggi tidak dikendalikan.
Tak hanya itu, sejumlah pertanyaan yang paling sering ditanyakan masyarakat mengenai hipertensi juga dibahas secara langsung dalam sesi edukasi.
Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah keterlibatan langsung aset masyarakat setempat.
Materi disampaikan oleh Suriani, istri Ketua RT di wilayah tersebut, yang sebelumnya telah dipersiapkan sebagai penggerak edukasi kesehatan di lingkungan masyarakat.
Dengan menggunakan Bahasa Bugis dalam penyampaiannya, materi menjadi lebih mudah dipahami dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Pendekatan tersebut membuat suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berbagi pengalaman mengenai tekanan darah tinggi yang mereka alami atau temui di lingkungan keluarga.
Mahasiswa PBL bertindak sebagai pendamping dan fasilitator, memastikan seluruh peserta memperoleh pemahaman yang baik mengenai cara mengenali serta mencegah hipertensi sejak dini.
Program HARMONI juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan berbasis aset atau Asset-Based Community Development (ABCD), yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan.
Dengan adanya kader dan tokoh masyarakat yang terlibat langsung dalam edukasi, informasi kesehatan diharapkan terus menyebar meski program mahasiswa telah selesai.
Bagi warga Lalabata Riaja, kegiatan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa hipertensi bukan hanya masalah orang sakit.
Penyakit yang sering dijuluki βsilent killerβ itu bisa menyerang siapa saja, terutama ketika faktor risiko tidak dikenali sejak awal.
Dan dari sebuah pertemuan sederhana di Dusun Dare Ajue, muncul satu kesadaran baru: menjaga tekanan darah ternyata harus dimulai sebelum gejala datang, bukan setelah penyakit menyerang. (*)
Penulis: Andi Utami Deasrini / Soppeng
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
