Barru, Katasulsel.com – Kabupaten Barru terus bergerak dengan berbagai pembangunan. Letaknya yang strategis di jalur utama Sulawesi Selatan, potensi pertanian, perikanan, hingga sektor usaha masyarakat menjadi modal besar bagi daerah berjuluk Bumi Hibridah itu.
Namun di balik geliat pembangunan tersebut, masih ada ribuan warga Barru yang menghadapi tantangan ekonomi.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap, sebanyak 14,13 ribu penduduk Kabupaten Barru masih berada dalam kategori miskin pada tahun 2025.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, angka tersebut setara dengan 8,00 persen dari total penduduk Kabupaten Barru.
Fakta ini menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah belum sepenuhnya mengangkat seluruh lapisan masyarakat.
BPS mencatat, garis kemiskinan Kabupaten Barru pada Maret 2025 berada di angka Rp426.792 per kapita per bulan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran di bawah angka tersebut masuk dalam kategori penduduk miskin.
Jika dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang berada pada angka 7,60 persen, tingkat kemiskinan Barru masih sedikit lebih tinggi.
Meski demikian, Barru masih berada di bawah sejumlah daerah lain yang memiliki angka kemiskinan lebih tinggi, seperti Jeneponto sebesar 11,42 persen, Pangkep 11,60 persen, dan Enrekang 10,73 persen.
Barru memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, hingga usaha mikro menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Namun, sejumlah tantangan masih menjadi pekerjaan rumah, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, akses pasar bagi pelaku usaha kecil, hingga penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
Terlebih, sebagian masyarakat Barru masih menggantungkan kehidupan pada sektor yang sangat dipengaruhi kondisi alam dan perubahan ekonomi.
Angka kemiskinan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara soal infrastruktur dan pertumbuhan investasi, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu merasakan manfaat ekonomi secara langsung.
Penguatan UMKM, peningkatan produktivitas petani dan nelayan, pengembangan sektor ekonomi kreatif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar angka kemiskinan terus ditekan.
Sebagai pembanding, beberapa daerah sekitar mencatat angka kemiskinan lebih rendah. Kabupaten Sidenreng Rappang berada di angka 4,91 persen, Wajo 5,86 persen, dan Luwu Timur 5,79 persen.
Sementara itu, Kota Parepare tercatat 4,44 persen dan Kota Makassar 4,43 persen.
Data BPS ini menjadi gambaran bahwa di balik wajah Barru yang terus tumbuh, masih ada 14 ribu lebih warga yang membutuhkan perhatian dan peluang ekonomi agar mampu meningkatkan taraf hidup.
Sebab, angka kemiskinan bukan hanya sekadar statistik, tetapi menggambarkan perjuangan ribuan keluarga Barru dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
