Kendari — Kontestasi Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 mulai memasuki fase panas. Mesin politik kampus perlahan bergerak. Lobi-lobi senyap mulai dimainkan. Peta kekuatan elite akademik mulai terbaca.
Di tengah dinamika itu, munculnya nama Prof. Ruslin, S.Pd., M.Si. langsung memantik perhatian civitas akademika UHO.
Akademisi senior Fakultas Farmasi tersebut resmi mengambil formulir sekaligus mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor. Langkah itu dinilai bukan sekadar prosedur administratif biasa, melainkan penanda bahwa pertarungan menuju kursi UHO 1 resmi dimulai.
Di dunia kampus, Pilrek memang tidak seramai Pilkada. Tidak ada baliho raksasa, konser politik, atau iring-iringan massa. Namun justru di situlah letak “politik sunyi”-nya. Semua bergerak lewat pengaruh, jaringan senat, kekuatan akademik, hingga konsolidasi kelompok-kelompok intelektual di balik layar.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Dan dalam pusaran itu, nama Prof Ruslin mulai disebut sebagai salah satu figur yang punya kombinasi lengkap: basis akademik, pengalaman organisasi, dan jejaring internal kampus yang tidak kecil.
“Ini bukan lagi sekadar pencalonan. Ini mulai terlihat sebagai pembentukan poros baru di Pilrek UHO,” ujar salah satu sumber internal kampus.
Prof Ruslin bukan figur yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari rahim UHO sendiri. Lahir di Desa Latugho, Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat, ia memulai perjalanan akademiknya di UHO sejak 1994 melalui Program Studi Pendidikan Kimia.
Ia kemudian meniti karier akademik hingga meraih gelar profesor di bidang farmasi dan kimia medisinal.
Dalam bahasa politik kampus, figur seperti ini sering disebut memiliki “DNA institusi”. Artinya, ia memahami kultur internal, membaca peta birokrasi kampus, hingga mengenali denyut psikologi civitas akademika dari dalam.
Namun kekuatan Prof Ruslin tidak hanya berada di ruang laboratorium dan jurnal ilmiah.
Jejak organisasinya cukup panjang. Saat mahasiswa, ia dikenal aktif di Resimen Mahasiswa (Menwa). Ia pernah menjabat Wakil Komandan Batalyon Menwa UHO, Komandan Batalyon Menwa UHO, hingga dipercaya menjadi Komandan Resimen Mahasiswa Sulawesi Tenggara.
Karakter kepemimpinan ala komando itu kini mulai dibaca sebagai modal penting dalam kontestasi Pilrek.
Sebab dalam realitas politik kampus, pertarungan tidak hanya ditentukan kapasitas akademik, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok, menjaga pengaruh, dan mengelola stabilitas internal.
Belakangan, dinamika Pilrek UHO memang mulai menghangat. Sejumlah nama mulai bermunculan. Fragmentasi dukungan perlahan terbentuk. Di ruang-ruang diskusi dosen, grup alumni, hingga lingkaran senat, pembicaraan tentang siapa figur paling layak memimpin UHO lima tahun ke depan mulai menjadi topik utama.
Apalagi UHO sedang berada di titik krusial.
Kampus terbesar di Sulawesi Tenggara itu kini menghadapi tekanan besar: persaingan antarperguruan tinggi, tuntutan internasionalisasi kampus, hilirisasi riset, digitalisasi sistem akademik, hingga tantangan membangun reputasi nasional.
Karena itu, Pilrek kali ini dipandang bukan sekadar pergantian pemimpin administratif, tetapi perebutan arah masa depan kampus.
“Yang sedang diperebutkan bukan hanya kursi rektor, tetapi kendali arah UHO lima tahun ke depan,” kata seorang akademisi senior.
Di tengah situasi tersebut, Prof Ruslin mulai dianggap sebagai figur yang memiliki positioning kuat. Selain dikenal aktif dalam pengembangan riset dan publikasi ilmiah, ia juga dinilai mampu membangun komunikasi lintas kelompok di internal kampus.
Kini, masuknya Prof Ruslin ke arena Pilrek membuat peta pertarungan semakin menarik.
Politik kampus UHO mulai bergerak. Konsolidasi mulai dilakukan. Dukungan mulai dihitung. Dan satu hal mulai terasa jelas: Pilrek UHO 2026–2030 dipastikan bukan pertarungan biasa. (*)
