Penulis
Ainun Nurul Safitri

MAROS – Potensi getah pinus di Kabupaten Maros ternyata tidak hanya bernilai sebagai bahan baku industri. Di Desa Bonto Manurung, hasil hutan tersebut kini mulai diolah menjadi produk lilin aromaterapi yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan berpotensi membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui Pelatihan Produksi Lilin Aromaterapi Berbasis Getah Pinus yang digelar Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) UKM PERISAI Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Sekretariat Kelompok Tani Hutan (KTH) Bahagia, Desa Bonto Manurung, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal di wilayah Maros.

Puluhan peserta yang berasal dari masyarakat dan anggota kelompok tani hutan mengikuti pelatihan tersebut dengan antusias. Mereka mendapatkan pengetahuan langsung mengenai cara mengolah getah pinus menjadi lilin aromaterapi yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Sebelum pelatihan dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman mereka mengenai pemanfaatan getah pinus dan proses produksi lilin aromaterapi.

Moderator kegiatan, Ahmad Dinajad, menjelaskan bahwa selama ini potensi getah pinus di Desa Bonto Manurung belum dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, PPK ORMAWA UKM PERISAI UMI menghadirkan inovasi yang diharapkan mampu meningkatkan nilai jual hasil hutan bukan kayu tersebut.

“Tujuan program ini adalah memberikan keterampilan baru kepada masyarakat agar potensi getah pinus yang melimpah di Maros dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan berpeluang menjadi usaha mandiri,” jelasnya.

Materi pelatihan kemudian disampaikan oleh Nur Eka Saputri. Peserta diperkenalkan dengan alat dan bahan yang digunakan, teknik pencampuran, proses pencetakan, hingga pengemasan produk agar layak dipasarkan.

Tak hanya mendapatkan teori, peserta juga menerima leaflet edukatif yang berisi panduan praktis pembuatan lilin aromaterapi berbasis getah pinus.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Banyak peserta mengajukan pertanyaan terkait kualitas produk, peluang pemasaran, hingga strategi pengembangan usaha berbasis hasil hutan lokal.

Sebagai tahap evaluasi, peserta kembali mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Melalui program ini, Tim PPK ORMAWA UKM PERISAI UMI berharap Desa Bonto Manurung dapat mengembangkan lilin aromaterapi berbahan getah pinus sebagai produk unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi desa.

Dengan melimpahnya sumber daya pinus di kawasan Maros, inovasi pengolahan hasil hutan menjadi produk kreatif dinilai dapat menjadi peluang baru bagi masyarakat untuk menciptakan usaha yang berkelanjutan dan memiliki daya saing di pasaran. (*)

Topik: Maros