Kendari, katasulsel.com – Di saat banyak anak menghabiskan waktu dengan gawai dan transaksi digital yang serba instan, Kota Kendari justru mencatat langkah penting dalam membangun budaya keuangan yang sehat sejak usia sekolah.

Melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), puluhan ribu siswa SD dan SMP kini resmi memiliki rekening tabungan atas nama mereka sendiri. Program ini menjadi salah satu gerakan literasi keuangan terbesar yang pernah dilaksanakan di Sulawesi Tenggara.

Dalam peluncuran program yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Indonesia Menabung (HIM) 2026, sebanyak 60.819 rekening Simpanan Pelajar (SimPel) berhasil diterbitkan untuk pelajar di Kota Kendari.

Dari jumlah tersebut, PT BPD Sulawesi Tenggara (Bank Sultra) menjadi kontributor terbesar dengan membuka 50.537 rekening SimPel. Sementara sisanya sebanyak 10.282 rekening diterbitkan oleh BPR Bahteramas Kendari.

Angka tersebut bukan hanya menunjukkan keberhasilan administrasi perbankan, tetapi juga menggambarkan perubahan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya pendidikan keuangan sejak dini.

Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar, mengatakan program tersebut merupakan investasi sosial jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan hingga bertahun-tahun ke depan.

Menurutnya, menabung bukan hanya soal menyimpan uang, melainkan membangun kebiasaan disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola keuangan sejak usia muda.

β€œPembukaan puluhan ribu rekening ini merupakan langkah nyata membentuk generasi yang memiliki kesadaran finansial sejak dini. Kami ingin anak-anak mengenal budaya menabung sebagai bagian dari kebiasaan hidup mereka,” ujar Andri.

Ia menambahkan, perkembangan layanan perbankan yang semakin mudah diakses menjadi peluang besar untuk memperluas inklusi keuangan di kalangan pelajar.

Dengan memiliki rekening sendiri, siswa dapat belajar memahami nilai uang, pentingnya perencanaan keuangan, hingga manfaat menyimpan dana secara aman melalui lembaga perbankan resmi.

Keberhasilan program tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, menilai capaian Kota Kendari menjadi salah satu contoh sukses implementasi Program KEJAR di daerah.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja sama yang solid antara pemerintah daerah, regulator, dunia pendidikan, sektor perbankan, hingga berbagai lembaga pendukung lainnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, menegaskan bahwa edukasi keuangan harus berjalan seiring dengan pemahaman mengenai transaksi digital yang aman dan perlindungan konsumen.

Generasi muda, kata dia, perlu dibekali kemampuan mengelola keuangan sejak dini agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital yang semakin cepat.

Di sisi lain, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran melihat program tersebut sebagai bagian dari upaya membangun karakter generasi muda yang lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Menurutnya, budaya menabung yang dulu identik dengan celengan kini telah berkembang mengikuti zaman. Anak-anak tidak hanya belajar menyimpan uang, tetapi juga mengenal sistem keuangan modern secara langsung.

β€œProgram ini mengajarkan anak-anak untuk hidup hemat, tidak konsumtif, dan mulai memahami bagaimana mengelola keuangan mereka sendiri,” ujarnya.

Siska mengungkapkan bahwa tingkat kepemilikan tabungan pelajar di Kota Kendari saat ini telah mencapai lebih dari 90 persen. Angka tersebut menunjukkan tingginya partisipasi sekolah, orang tua, dan para pelajar dalam mendukung gerakan menabung.

Pemerintah Kota Kendari optimistis target 100 persen pelajar memiliki rekening dapat segera terwujud. Jika target tersebut tercapai, Kendari berpotensi menjadi salah satu daerah dengan tingkat inklusi keuangan pelajar tertinggi di Indonesia.

Bagi Bank Sultra, keberhasilan membuka lebih dari 50 ribu rekening SimPel bukan sekadar pencapaian statistik. Di balik setiap rekening yang dibuka, terdapat harapan lahirnya generasi baru yang lebih bijak dalam mengelola keuangan, lebih siap menghadapi tantangan ekonomi, dan lebih mandiri dalam merencanakan masa depan.

Karena membangun generasi emas tidak selalu dimulai dari proyek besar. Terkadang, semuanya berawal dari satu kebiasaan sederhana: menabung.(*)