Pernyataan itu bukan sekadar penghormatan seremonial.

Bagi banyak orang yang mengenal Faisal, sosoknya memang identik dengan semangat kerja, kesederhanaan, dan komitmen terhadap tugas yang diemban.

Di usia yang relatif muda, 45 tahun, Faisal Sehuddin meninggalkan seorang istri, Haerani Rasyid, serta empat orang anak.

Namun lebih dari itu, ia juga meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata: jejak pengabdian.

Jejak itu tersimpan dalam sistem birokrasi yang pernah ia bangun, dalam ASN yang pernah ia bina, dalam dunia pendidikan yang pernah ia pimpin, dan dalam kenangan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Karena sesungguhnya, ukuran seorang pengabdi bukan hanya berapa lama ia hidup, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya setelah pergi.

Dan pada hari itu, ketika bendera setengah tiang berkibar di Rijang Pittu, Sidrap seolah sedang mengucapkan satu kalimat sederhana kepada salah satu putra terbaiknya:

Terima kasih atas pengabdianmu, Faisal Sehuddin. (*)