Luwu Utara, Katasulsel.com — Di Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara, terdapat sebuah kompleks makam yang menyimpan cerita penting dalam perjalanan sejarah Islam di Tana Luwu.
Namanya Kompleks Makam Datu Pattimang.
Situs tersebut merupakan makam Datuk Sulaiman atau Datu Pattimang, tokoh yang dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di Tana Luwu. Kompleks makamnya telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Bupati Luwu Utara Nomor 188.4.45/659/XII/2019. Dalam keputusan tersebut, Kompleks Makam Datu Pattimang ditetapkan sebagai situs cagar budaya dan berlokasi di Desa Pattimang, Kecamatan Malangke.
Dari Pattimang, Jejak Islam Tana Luwu Ditelusuri
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat Datuk Sulaiman sebagai salah satu tokoh yang membawa ajaran Islam ke Tanah Luwu.
Dalam keterangan tersebut, Raja Luwu saat itu, Andi Patiware, menjadi tokoh yang pertama menerima ajaran Islam dari Datuk Sulaiman. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan Islam di wilayah Luwu dan Sulawesi Selatan.
Karena itu, makam Datuk Sulaiman tidak hanya berkaitan dengan sejarah seorang tokoh agama. Kompleks tersebut juga menjadi salah satu tempat untuk menelusuri perubahan sosial dan keagamaan yang berlangsung di Tana Luwu.
Jejak itu masih dirawat hingga sekarang.
Makam Datu Pattimang Jadi Cagar Budaya
Pemerintah Kabupaten Luwu Utara memasukkan Kompleks Makam Datu Pattimang dalam daftar situs cagar budaya daerah.
Penetapan tersebut dilakukan bersama sejumlah bangunan, struktur, benda, dan situs bersejarah lainnya di Luwu Utara. Dalam dokumen keputusan bupati, selain Kompleks Makam Datu Pattimang, terdapat pula situs seperti Masamba Affair, Arca Watu Urani, Arca Timooni, Arca Kontara, dan I’song.
Status tersebut membuat kompleks makam memiliki kedudukan sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dilindungi.
Namun, kehidupan situs itu tidak berhenti pada penetapan administratif.
Makam Datu Pattimang hingga kini masih didatangi masyarakat dari berbagai daerah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan menyebut kompleks makam tersebut ramai dikunjungi, terutama pada momentum tertentu seperti menjelang Ramadan serta setelah Idulfitri dan Iduladha.
Bukan Hanya Makam
Di kawasan yang sama, terdapat pula makam Andi Patiware, tokoh Kerajaan Luwu yang menerima ajaran Islam dari Datuk Sulaiman.
Kedua makam tersebut membuat kawasan Pattimang memiliki hubungan langsung dengan kisah awal perkembangan Islam di Tana Luwu.
Pada Januari 2026, perangkat Kedatuan Luwu kembali melakukan ziarah ke makam Dato’ Sulaiman dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu. Ziarah tersebut juga dilanjutkan ke makam La Pattiware’.
Setahun sebelumnya, kompleks yang sama juga menjadi lokasi ziarah dalam rangkaian kegiatan pemerintah daerah. Pada Oktober 2025, ribuan pelajar Luwu Utara bahkan mengikuti napak tilas sejarah kebudayaan Islam Tana Luwu menuju kompleks makam tersebut.
Sejarah yang Masih Didatangi Peziarah
Makam Datu Pattimang memperlihatkan bagaimana sebuah situs sejarah dapat tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia bukan hanya tinggalan masa lalu yang tercatat dalam dokumen cagar budaya. Kompleks tersebut masih menjadi tempat ziarah sekaligus ruang untuk mengenang tokoh yang dikaitkan dengan perkembangan awal Islam di Tana Luwu.
Di Desa Pattimang, jejak itu masih dapat ditemui dalam satu kawasan makam yang menghubungkan nama Datuk Sulaiman, Andi Patiware, dan perjalanan panjang sejarah Luwu.
Sebuah situs yang membuat sejarah masuknya Islam di Tana Luwu tidak berhenti sebagai cerita dalam buku, tetapi masih memiliki tempat yang dapat didatangi hingga hari ini. (*)
