Makassar, Katasulsel.com β Gelombang protes terhadap aktivitas pertambangan di Luwu Timur kembali memanas. Front Perjuangan Mahasiswa Wija To Luwu (FPM-WTL) menyerukan aksi demonstrasi di Kantor Perwakilan PT Vale Indonesia di Makassar, Rabu (22/7/2026).
Lewat flyer yang beredar luas di media sosial, FPM-WTL mengusung tema tajam: βTambang Kaya, Rakyat Sengsara: Kalau Begini, Kami Curigaβ. Di bagian bawah poster terpampang kalimat yang tak kalah keras: βLuwu Bukan Tanah Rampasan.β
Bagi FPM-WTL, aksi ini bukan bentuk penolakan terhadap investasi. Mereka mengaku mendukung pembangunan, namun menolak jika investasi berjalan dengan mengorbankan hak masyarakat dan lingkungan.
“Kami tidak anti investasi, tapi kami anti ketidakadilan. Jangan cari cuan di tanah orang lalu bilang itu untuk rakyat,” demikian kutipan yang tertulis dalam materi kampanye aksi tersebut.
Kelompok mahasiswa itu menilai masih terjadi ketimpangan antara keuntungan industri tambang dan kondisi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Mereka bahkan menyebut adanya paradoks yang hingga kini belum terjawab.
“Tanah rakyat dikuasai, alam dirusak, warga dikriminalisasi, sementara laba berlipat di luar negeri,” tulis FPM-WTL dalam seruan aksinya.
Bawa 9 Tuntutan
Dalam demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 13.00 WITA itu, massa akan membawa sembilan tuntutan yang ditujukan kepada PT Vale maupun pemerintah.
Tuntutan tersebut mencakup penghentian aktivitas yang dianggap memicu konflik agraria, perlindungan hak masyarakat adat To Karunsi, penghentian eksplorasi di Blok Tanamalia sebelum adanya persetujuan masyarakat, hingga desakan audit independen terhadap aktivitas perusahaan.
Selain itu, mereka juga meminta penghentian kriminalisasi warga yang mempertahankan lahan, penyelesaian dugaan kebocoran pipa minyak di Towuti, keterlibatan Komnas HAM dan Ombudsman RI, serta pembukaan ruang dialog yang dinilai lebih setara dengan masyarakat.
Panitia memperkirakan sekitar 50 peserta akan turun ke jalan dengan membawa spanduk, bendera organisasi, dan mobil komando. Aksi tersebut dikoordinasikan oleh Edo Kusama.
Tanamalia, Luka Lama yang Belum Selesai
Aksi ini kembali mengangkat isu pengembangan tambang PT Vale di Blok Tanamalia, Loeha Raya, Kabupaten Luwu Timur, yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik perdebatan paling panas di Sulawesi Selatan.
Sejumlah organisasi lingkungan dan kelompok masyarakat sebelumnya juga menyuarakan penolakan terhadap rencana ekspansi tambang di kawasan tersebut. Mereka khawatir aktivitas pertambangan akan berdampak pada kawasan hutan hujan, sumber mata air, hingga kebun merica yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga.
Di sisi lain, PT Vale berulang kali menyatakan bahwa pengembangan proyek dilakukan sebagai bagian dari agenda investasi nasional dan program hilirisasi mineral. Perusahaan juga menegaskan tetap membuka ruang komunikasi dengan masyarakat serta pemerintah daerah.
Namun hingga kini, polemik Tanamalia belum menemukan titik temu.
Di satu sisi ada kepentingan investasi dan pembangunan ekonomi. Di sisi lain, muncul tuntutan perlindungan lingkungan, hak masyarakat adat, dan keberlanjutan ruang hidup warga.
Rabu siang nanti, ketegangan dua kepentingan itu kembali akan bertemu di depan kantor PT Vale di Makassar. Pertanyaannya, apakah aksi ini akan membuka ruang dialog baru, atau justru memperpanjang daftar panjang konflik yang belum selesai di Tanah Luwu? (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
