Sederhana saja logikanya: setelah perjalanan panjang, tubuh lelah, pakaian sederhana, lalu ada keinginan untuk tampil lebih rapi saat turun dan bertemu keluarga. Maka ruang kecil itu hadir sebagai jawaban.
Dan ternyata, bukan sedikit yang memanfaatkannya.
Bling-bling, Mispa, dan identitas yang tidak hilang
Kalau Anda pernah melihat kepulangan jemaah haji Sulsel, ada satu ciri yang cukup khas: pakaian Mispa warna cerah, penuh payet, kadang berkilau, ditambah aksesori yang tidak sedikit.
Bagi sebagian orang luar, ini mungkin terlihat “ramai”. Tapi bagi banyak jemaah, itu bukan sekadar pakaian. Itu bagian dari ekspresi kebahagiaan pulang dari ibadah besar.
Di sinilah makeup corner masuk. Ia bukan mengubah tradisi itu, tapi menyempurnakan momen transisinya.
Dari ihram, dari pakaian sederhana, dari perjalanan spiritual—menuju momen sosial: bertemu keluarga, tetangga, dan kampung halaman.
Ada yang natural, ada yang tetap “full look”
Di sudut lain, Ria—salah satu penata rias di lokasi—menceritakan sisi yang lebih ringan tapi menarik. Di makeup corner ini, tidak ada satu standar kecantikan yang dipaksakan.
“Sering kami bantu makeup saja. Pakaian mereka sendiri. Kadang kami bantu pasang hijab atau mispa,” katanya santai.
Yang menarik, permintaan jemaah sangat beragam. Ada yang ingin tampil natural, ada yang tetap ingin “niat lengkap” untuk momen pulang.
“Ada yang minta natural, ada juga yang mau lebih rapi. Kita sesuaikan saja dengan usia dan wajahnya,” tambahnya.
Dan satu hal yang cukup menghangatkan: bukan hanya perempuan muda yang datang ke sana.
“Bahkan nenek-nenek juga ada,” katanya sambil tersenyum.
Di titik ini, makeup corner bukan lagi soal kosmetik. Tapi soal rasa ingin tampil pantas di depan keluarga yang sudah lama ditinggalkan.
Tradisi yang tidak tertulis, tapi terus hidup
Fenomena ini ternyata bukan hal baru. Di Sulawesi Selatan, kebiasaan jemaah haji “tampil maksimal” saat pulang sudah seperti tradisi tak tertulis.
Ada yang sejak dari Tanah Suci sudah menyiapkan pakaian khusus. Bahkan ada yang sudah ganti baju di perjalanan, di pesawat, atau saat transit.
“Kalau tidak sempat di sini, mereka sudah siap dari sebelumnya,” kata Ikbal.
