Namun di balik semua itu, ada satu pesan yang tetap dijaga: tetap sederhana dan tetap menjaga adab.
Pihak panitia tidak melarang penggunaan pakaian atau riasan tersebut, selama tetap memperhatikan batasan dan menutup aurat dengan baik.
“Kami tidak melarang, tapi tetap diingatkan soal ketentuan berpakaian,” ujarnya.
Sudiang, bukan sekadar tempat transit
Kalau dilihat sekilas, Asrama Haji Sudiang hanyalah titik akhir perjalanan sebelum jemaah kembali ke kabupaten masing-masing.
Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, tempat ini seperti ruang transisi kehidupan.
Dari ibadah ke sosial.
Dari kesederhanaan ke pertemuan keluarga.
Dari perjalanan panjang ke kehidupan sehari-hari.
Dan di tengah semua itu, makeup corner berdiri kecil—tidak mewah, tidak besar—tapi punya peran yang diam-diam penting: membantu orang-orang yang baru pulang dari Tanah Suci untuk kembali menjadi diri mereka di hadapan orang yang mereka cintai.
Karena bagi banyak jemaah, pulang bukan hanya soal tiba. Tapi juga soal “siap dilihat” oleh keluarga yang sudah lama menunggu di rumah. (*)
