Enrekang, Katasulsel.com β Penataan kawasan Anjungan Mataallo Enrekang kembali menjadi perhatian publik setelah muncul pertanyaan mengenai perubahan fungsi sebuah bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai mushala.
Pemerintah Kabupaten Enrekang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan memberikan penjelasan. Pengalihan fungsi bangunan tersebut disebut bukan semata-mata untuk mengubah peruntukan fasilitas, tetapi bagian dari penataan kawasan agar lebih bersih, aman, produktif dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Enrekang, Andi Faisal, mengatakan bangunan mushala lama tersebut telah lama tidak berfungsi secara optimal.
Menurut dia, kondisi bangunan dan sejumlah fasilitas di sekitarnya justru menjadi persoalan tersendiri karena tidak terkelola dengan baik.
βBangunan mushala lama tersebut sudah lama terbengkalai dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kami juga menemukan beberapa fasilitas toilet di sekitar area yang kurang terkelola dengan baik,β kata Andi Faisal, Sabtu (15/8/2026).
Kondisi tersebut, lanjut dia, berpengaruh terhadap kebersihan dan estetika kawasan wisata.
Bahkan, lokasi yang seharusnya menjadi fasilitas publik disebut beberapa kali disalahgunakan sehingga menimbulkan keresahan di kalangan pedagang maupun masyarakat sekitar.
Karena itu, pemerintah memilih melakukan penataan kembali terhadap kawasan tersebut.
Salah satu pertimbangan yang digunakan adalah keberadaan masjid yang lokasinya relatif dekat dari kawasan Anjungan Mataallo.
Andi Faisal menyebut masjid tersebut berjarak sekitar 100 meter dari lokasi bangunan mushala lama.
Fasilitas di masjid tersebut juga dinilai lebih memadai untuk kebutuhan pengunjung yang hendak melaksanakan ibadah.
βDi sekitar kawasan wisata hanya berjarak sekitar 100 meter terdapat masjid yang kapasitasnya jauh lebih luas. Masjid tersebut juga memiliki fasilitas air bersih yang stabil, mukena dan sarung yang terawat, serta toilet dan tempat wudu yang nyaman untuk para pengunjung,β jelasnya.
Atas pertimbangan tersebut, bangunan lama kemudian ditata dan dialihfungsikan menjadi coffee shop.
Namun, menurut Andi Faisal, keputusan tersebut tidak semata-mata mempertimbangkan aspek estetika kawasan.
Ada tujuan ekonomi yang ingin didorong pemerintah, khususnya membuka ruang usaha bagi masyarakat lokal.
βKami berharap dengan hadirnya coffee shop ini bisa membuka lapangan kerja baru bagi pemuda lokal dan menyediakan fasilitas bersantai yang representatif bagi pengunjung,β ujarnya.
Dengan konsep tersebut, kawasan Anjungan Mataallo diharapkan tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang interaksi ekonomi masyarakat.
Kehadiran usaha kuliner dan tempat bersantai dinilai dapat melengkapi aktivitas wisata sekaligus memberi peluang bagi pelaku UMKM di sekitar kawasan.
Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa perubahan fungsi bangunan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan, terutama karena sebelumnya dikenal sebagai mushala.
Andi Faisal memastikan nilai-nilai religius tetap menjadi perhatian dalam pengelolaan kawasan.
Menurutnya, operasional coffee shop akan tetap menghormati waktu salat.
βKami pastikan selalu menghormati waktu salat, misalnya dengan mengecilkan volume musik saat azan berkumandang,β katanya.
Ia juga membuka ruang komunikasi apabila di kemudian hari terdapat kebutuhan untuk mengembalikan area tersebut sebagai fasilitas ibadah.
βKalau di masa depan area ini akan difungsikan kembali sebagai sarana ibadah, kami tetap membuka ruang komunikasi,β tambahnya.
Sementara itu, sejumlah pelaku UMKM yang beraktivitas di sekitar Anjungan Mataallo justru memberikan pandangan positif terhadap penataan tersebut.
Mereka menilai kondisi bangunan sebelum ditata sudah cukup lama terbengkalai dan justru menjadi sumber persoalan.
Beberapa pedagang mengaku pernah menemukan pakaian dalam yang tertinggal di sekitar bangunan serta mencium bau tidak sedap dari area yang kurang terawat.
Toilet umum di sekitar lokasi juga disebut sebelumnya dalam kondisi kotor dan tidak terkelola.
Setelah dilakukan penataan, kondisi kawasan dinilai menjadi lebih bersih, rapi dan nyaman.
Masyarakat sekitar juga sebelumnya mengeluhkan dugaan penggunaan bangunan lama oleh pasangan muda-mudi untuk aktivitas yang dinilai tidak sesuai dengan norma.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya penataan dan pengawasan terhadap fasilitas publik di kawasan wisata.
Pemerintah berharap perubahan tersebut dapat menghilangkan ruang-ruang yang berpotensi disalahgunakan sekaligus menghadirkan fasilitas yang lebih produktif.
Andi Faisal menegaskan, penataan kawasan Anjungan Mataallo dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kebersihan, keamanan, kenyamanan pengunjung, keberlangsungan aktivitas wisata hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat.
βKami berterima kasih atas perhatian dan kontrol sosial yang diberikan masyarakat. Penataan ini semata-mata dilakukan untuk kebaikan semua pihak dan kemajuan kawasan wisata,β pungkasnya. (FungFi)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
