Sesaat setelah ditetapkan, Suwardi menyampaikan pesan yang cukup menarik perhatian peserta konferensi. Ia menegaskan keinginannya menjadikan PWI Sulsel sebagai rumah besar yang terbuka bagi seluruh wartawan.

Menurutnya, organisasi profesi tidak boleh terjebak dalam sekat-sekat kelompok atau kepentingan tertentu. Sebaliknya, PWI harus menjadi ruang bersama yang mampu merangkul seluruh anggota tanpa membedakan latar belakang media maupun pilihan organisasi.

Pernyataan itu muncul di tengah tantangan yang sedang dihadapi industri media saat ini. Gelombang disrupsi digital, perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, tekanan ekonomi media, hingga maraknya penyebaran hoaks menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi organisasi wartawan.

Karena itu, kepemimpinan baru PWI Sulsel tidak hanya dituntut menjaga soliditas internal organisasi, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di kalangan jurnalis.

Program pelatihan, pendidikan jurnalistik, sertifikasi kompetensi, hingga penguatan etika profesi diperkirakan akan menjadi agenda penting dalam lima tahun ke depan.

Konferensi kali ini pun terasa lebih dari sekadar pergantian pengurus. Ia menjadi penanda dimulainya babak baru bagi organisasi yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi wartawan di Sulawesi Selatan.

Di tengah derasnya arus informasi dan semakin tipisnya batas antara fakta dan disinformasi, harapan besar kini bertumpu pada kepemimpinan baru tersebut: menjaga marwah profesi, memperkuat kompetensi wartawan, dan memastikan pers tetap berdiri sebagai salah satu pilar demokrasi yang dipercaya publik. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita