Saya teringat satu kalimat lama.
Masuk penjara itu yang dihukum satu orang.
Tapi yang ikut merasakan hukumannya sering kali satu keluarga.
Kalimat itu terasa relevan ketika melihat kegiatan sederhana di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sengkang, Kabupaten Wajo, Selasa, 14 Juli 2026.
Sederhana sekali.
Hanya sepuluh paket bantuan sosial.
Isinya pun bukan barang mewah.
Mi instan.
Susu.
Teh.
Biskuit.
Sirup.
Sabun pencuci piring.
Tidak ada beras satu ton.
Tidak ada bantuan puluhan juta rupiah.
Tidak ada pula panggung besar dengan spanduk raksasa.
Namun justru di situlah letak nilainya.
Kepedulian yang tulus hampir selalu tampil dalam bentuk sederhana.
Yang penting bukan seberapa besar yang diberikan.
Tetapi seberapa besar perhatian yang ingin disampaikan.
Pagi itu, Kepala Rutan Sengkang, Oki Setiawan, bersama jajaran pegawainya menyerahkan bantuan kepada keluarga warga binaan yang tergolong kurang mampu.
Mungkin ada yang bertanya.
Mengapa keluarga warga binaan harus dibantu?
Bukankah yang menjalani pidana adalah anggota keluarganya?
Pertanyaan itu sah.
Tetapi kehidupan tidak sesederhana pasal-pasal hukum.
Ketika seorang ayah masuk penjara, anak-anaknya tetap harus sekolah.
Ketika seorang suami menjalani hukuman, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi.
Ketika seorang anak tersandung masalah hukum, orang tuanya tetap harus makan.
Hukuman pidana memang dijatuhkan kepada individu.
Namun dampak sosial dan ekonominya sering merembet ke mana-mana.
Karena itulah langkah Rutan Sengkang ini menarik.
Lembaga pemasyarakatan yang selama ini identik dengan pagar tinggi dan jeruji besi justru menunjukkan wajah yang lebih manusiawi.
Wajah yang mungkin jarang terlihat publik.
Selama ini masyarakat mengenal rutan sebagai tempat pengamanan.
Tempat pembinaan.
Tempat menjalani hukuman.
Padahal di balik itu ada tugas lain yang tidak kalah penting.
Menjaga harapan.
Ya, harapan.
Karena tidak sedikit warga binaan yang mampu berubah justru karena masih memiliki keluarga yang setia menunggu di rumah.
Masih ada anak yang ingin melihat ayahnya pulang menjadi pribadi yang lebih baik.
Masih ada istri yang berharap suaminya bisa memulai hidup baru.
Masih ada orang tua yang berdoa agar anaknya kembali ke jalan yang benar.
Harapan-harapan itulah yang sesungguhnya ikut dibina oleh pemasyarakatan.
Kepala Rutan Sengkang, Oki Setiawan, memahami hal tersebut.
Menurutnya, pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan warga binaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk peduli terhadap kondisi sosial keluarga mereka.
“Melalui bantuan ini kami berharap dapat meringankan beban keluarga warga binaan yang kurang mampu serta memperkuat hubungan baik antara Rutan Sengkang dengan masyarakat,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar formal.
Tetapi maknanya cukup dalam.
Sebab membangun pemasyarakatan yang modern tidak cukup hanya dengan memperkuat pengamanan.
Tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas.
Tidak cukup hanya dengan menjalankan aturan.
Yang juga penting adalah menghadirkan empati.
Rutan Sengkang tampaknya sedang berjalan ke arah itu.
Membangun citra bahwa pemasyarakatan bukan sekadar soal menghukum.
Melainkan tentang memanusiakan manusia.
Tentang memberi kesempatan kedua.
Tentang memastikan bahwa ketika seseorang tersandung, masih ada ruang untuk bangkit.
Dan di tengah banyaknya berita negatif yang kerap mengiringi dunia pemasyarakatan, sepuluh paket bantuan sosial dari Rutan Sengkang mungkin terlihat kecil.
Tetapi pesannya besar.
Sangat besar.
Bahwa di balik tembok yang tinggi, masih ada hati yang bekerja.
Bahwa di balik jeruji besi, masih ada kepedulian yang hidup.
Dan bahwa Rutan Sengkang bukan hanya menjaga warga binaan.
Tetapi juga berusaha menjaga harapan keluarga yang menunggu mereka pulang. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
