Judul di atas memang terasa sederhana. Tetapi tidak semua daerah mampu menunjukkannya.
Sebab hati tidak diukur dari banyaknya spanduk yang berjejer. Hati terlihat dari cara memperlakukan orang yang sedang berada di titik terendah hidupnya.
Minggu ini, saya menemukan cerita itu di Rutan Sengkang-Wajo.
Tempat yang biasanya identik dengan tembok tinggi, pintu besi, dan suara gembok.
Tempat yang oleh sebagian orang dianggap sebagai ujung cerita.
Padahal sering kali justru di situlah cerita baru dimulai.
Ada sepuluh paket bantuan sosial yang dibagikan kepada keluarga warga binaan kurang mampu.
Sepuluh paket.
Bukan sepuluh truk.
Bukan program raksasa bernilai miliaran rupiah.
Hanya sepuluh paket.
Tetapi jangan buru-buru meremehkannya.
Karena di republik ini, kadang yang mahal bukan berasnya.
Yang mahal adalah kepeduliannya.
Banyak orang mudah berkata: “Mereka kan keluarga narapidana.”
Nah, di situlah masalahnya.
Kita terlalu sering menghukum orang yang tidak bersalah.
Anaknya ikut menanggung malu.
Istrinya ikut menanggung beban.
Orang tuanya ikut memikul rasa sedih.
Seolah-olah satu kesalahan harus dibayar oleh satu keluarga besar.
Padahal hukum tidak pernah mengajarkan itu.
Yang dihukum adalah pelakunya.
Bukan keluarganya.
Karena itu saya melihat langkah Rutan Sengkang ini menarik.
Mereka tidak sedang membagikan mi instan.
Mereka sedang mengirim pesan.
Pesan bahwa negara tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaannya.
Pesan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar urusan mengunci orang di balik jeruji.
Kalau hanya mengunci, pintu rumah juga bisa.
Kalau hanya menghukum, semua orang bisa.
Tetapi membina manusia?
Itu jauh lebih sulit.
Kepala Rutan Sengkang Oki Setiawan tampaknya memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang.
Bahwa warga binaan yang ingin berubah membutuhkan alasan untuk berubah.
Dan alasan paling kuat biasanya bukan ceramah.
Bukan aturan.
Bukan ancaman.
Melainkan keluarga.
Keluarga yang masih menunggu.
Keluarga yang masih percaya.
Keluarga yang masih memberi kesempatan.
Karena itu, membantu keluarga warga binaan sesungguhnya bukan pekerjaan sampingan.
Itu bagian dari proses pembinaan itu sendiri.
Saya tahu ada yang akan berkata: “Bantuannya kecil.”
Memang.
Tetapi saya lebih khawatir pada mereka yang punya anggaran besar namun kepeduliannya kecil.
Sebab ukuran kemanusiaan tidak pernah dihitung dari jumlah paket yang dibagikan.
Melainkan dari keberanian untuk peduli ketika sebagian orang memilih tidak peduli.
Di tengah hiruk-pikuk politik, proyek, dan rebutan panggung, kabar dari Rutan Sengkang ini seperti pengingat kecil.
Bahwa Wajo belum kehilangan hatinya.
Dan selama masih ada orang-orang yang bekerja dengan hati, harapan itu belum pergi ke mana-mana. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
