Bone, Katasulsel.com – Dua kabupaten di kawasan timur Sulawesi Selatan, Bone dan Sinjai, dikenal memiliki potensi besar dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga kelautan.

Namun, di balik kekuatan ekonomi berbasis sumber daya alam tersebut, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih ada puluhan ribu warga yang menghadapi tantangan ekonomi.

Di Kabupaten Bone, jumlah penduduk miskin tercatat mencapai 69,73 ribu orang pada tahun 2025.

Angka tersebut setara dengan 9,13 persen dari total penduduk Bone berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.

Sementara itu, Kabupaten Sinjai mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 18,44 ribu orang dengan persentase 7,41 persen.

Data tersebut menjadi catatan penting karena Bone dan Sinjai selama ini dikenal sebagai daerah dengan sektor pertanian yang kuat, tetapi tantangan meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih terus berlangsung.

BPS mencatat, garis kemiskinan Kabupaten Bone pada Maret 2025 berada di angka Rp452.560 per kapita per bulan.

Sedangkan garis kemiskinan Sinjai tercatat Rp426.191 per kapita per bulan.

Penduduk dengan rata-rata pengeluaran di bawah angka tersebut masuk dalam kategori penduduk miskin.

Jika dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di angka 7,60 persen, tingkat kemiskinan Bone masih cukup tinggi, sementara Sinjai berada sedikit di bawah rata-rata provinsi.

Bone menjadi salah satu kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbesar di Sulawesi Selatan. Hal ini tidak lepas dari jumlah penduduk yang besar serta karakter ekonomi masyarakat yang masih banyak bergantung pada sektor pertanian.

Sementara Sinjai, meski memiliki persentase kemiskinan lebih rendah, tetap menghadapi tantangan dalam memperluas lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan.

Potensi besar sebenarnya dimiliki kedua daerah. Bone dengan sektor padi, peternakan, dan perikanan, sementara Sinjai memiliki kekuatan pada pertanian, perkebunan, serta sektor kelautan.

Namun, persoalan seperti fluktuasi harga hasil pertanian, biaya produksi, akses pasar, dan keterbatasan modal usaha masih menjadi tantangan yang perlu dijawab.

Jika dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Selatan, angka kemiskinan Bone masih lebih tinggi dibanding Wajo yang berada di angka 5,86 persen, Sidenreng Rappang 4,91 persen, dan Kota Parepare 4,44 persen.

Namun Bone masih berada di bawah daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi seperti Pangkep 11,60 persen, Jeneponto 11,42 persen, dan Enrekang 10,73 persen.

Data BPS ini menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya alam belum otomatis membuat seluruh masyarakat sejahtera.

Tantangan pemerintah daerah ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi mampu membuka peluang baru, meningkatkan pendapatan petani, memperkuat UMKM, dan menciptakan lapangan kerja.

Sebab, di balik angka 88 ribu lebih warga miskin Bone dan Sinjai, terdapat ribuan keluarga yang menunggu kebijakan dan peluang ekonomi agar mampu keluar dari tekanan kehidupan.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Wajo terbaru di sini

Topik: Bone