Bone, Katasulsel.com – Sore itu seharusnya menjadi waktu yang biasa bagi MFA.

Bocah berusia 8 tahun itu datang ke Masjid Jannatul Firdaus di Kompleks Biru Indah Permai, Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang, seperti anak-anak lainnya yang bersiap mengikuti kegiatan mengaji.

Tidak ada yang menyangka, beberapa menit kemudian ia justru harus dilarikan ke rumah sakit.

Kepalanya terluka.

Darah mengalir.

Dan dua jahitan menjadi penanda dari peristiwa yang kini menyita perhatian publik.

Kasus itu ramai diperbincangkan setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) masjid beredar luas di media sosial.

Dalam video tersebut terlihat sejumlah anak sedang bermain di halaman masjid menjelang waktu mengaji.

Suasana tampak normal.

Anak-anak berlarian dan bercanda seperti biasanya.

Namun ketenangan itu mendadak berubah.

Seorang pria dewasa terlihat datang ke lokasi.

Dalam rekaman, pria tersebut tampak menghampiri kelompok anak-anak yang sedang bermain.

Beberapa detik kemudian terjadi insiden yang membuat warga sekitar terkejut.

Korban diduga ditendang hingga terjatuh dan kepalanya membentur dinding masjid.

Benturan itu menyebabkan luka di bagian kepala.

Bocah tersebut kemudian harus menjalani perawatan medis dan mendapat dua jahitan.

Yang membuat keluarga semakin terpukul, menurut mereka, korban bukan anak yang diduga melakukan tindakan yang memicu kemarahan pelaku.

Ibu korban, Ade Imma Syakira (30), menjelaskan bahwa saat kejadian terdapat beberapa anak yang sedang bermain di sekitar masjid.

Menurut informasi yang diterimanya, ada benda yang dilempar dan mengenai area rumah pelaku.

Namun ia menegaskan bahwa anaknya bukan pelaku pelemparan tersebut.

“Sesampainya di masjid, teman-temannya bermain. Kemudian salah satu temannya melempar sesuatu ke luar dan mengenai rumah pelaku. Tidak berselang lama pelaku datang sambil marah-marah dan menendang wajah anak saya sampai terbentur ke tembok. Padahal bukan anak saya yang melempari rumahnya,” ujarnya.

Ade mengaku mengetahui kejadian itu saat sedang bekerja.

Ia menerima telepon dari suaminya yang meminta segera pulang.

Saat tiba di rumah, kondisi anaknya membuat dirinya terpukul.

“Suami saya menelepon dan meminta saya pulang. Katanya anak saya dipukuli sampai kepalanya bocor. Saat tiba di rumah, saya melihat anak saya menangis dan berlumuran darah. Saya langsung membawanya ke rumah sakit. Kepalanya bocor dan harus dijahit dua jahitan,” katanya.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Bone.

Keluarga berharap kasus itu diproses sesuai hukum yang berlaku.

Mereka juga berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi kepada anak-anak lainnya.

Kasus ini mendapat perhatian luas bukan hanya karena korban masih berusia delapan tahun.

Tetapi juga karena peristiwa itu terjadi di lingkungan rumah ibadah.

Tempat yang selama ini dikenal sebagai ruang belajar, beribadah, dan mencari ketenangan.

Kasi Humas Polres Bone, Iptu Rayendra Muchtar, membenarkan bahwa laporan keluarga korban telah diterima.

Menurutnya, penyelidikan masih berlangsung.

Polisi saat ini mengumpulkan keterangan para saksi serta mendalami rekaman CCTV yang beredar.

“Betul, kami sudah menerima laporan dari orang tua korban. Saat ini pelakunya masih dalam penyelidikan,” ujarnya.

Aparat juga terus melakukan langkah-langkah untuk mengungkap secara utuh kronologi kejadian serta motif yang melatarbelakanginya.

Sementara itu, video rekaman CCTV masih terus beredar dan menuai berbagai reaksi dari masyarakat.

Banyak yang menyayangkan insiden tersebut, terlebih karena melibatkan seorang anak yang datang ke masjid untuk mengikuti kegiatan mengaji.

Kini, keluarga korban menunggu proses hukum berjalan.

Sedangkan publik menanti jawaban atas satu pertanyaan sederhana.

Mengapa kemarahan orang dewasa harus berakhir pada seorang anak berusia delapan tahun? (*)